Pulang ke Karang Suci

 *”Pulang ke Karang Suci”*


Tiga puluh jiwa
dalam satu bus yang sama,
adik, kakak, anak, menantu, cucu—
nama-nama berbeda
yang disatukan oleh satu panggilan:
keluarga.

Roda berputar perlahan
menyusuri jalan yang sudah hafal
jejak langkah ayah dan ibu,
kakek dan nenek,
hingga sunyi buyut
yang lebih dulu belajar pulang.

Di Karang Suci
kami menundukkan kepala,
bukan untuk kesedihan,
melainkan untuk rasa hormat
yang tak pernah lekang oleh jarak dan waktu.

Setiap orang membawa jalan hidupnya sendiri—
ada yang penuh liku,
ada yang lapang,
ada yang masih mencari arah.
Namun di hadapan pusara,
kami sama:
anak-anak dari asal yang satu.

Doa mengalir pelan,
seperti angin sore Cilacap
yang tak bertanya siapa paling berhasil,
siapa paling lelah.
Semua diterima,
semua dipeluk oleh tanah
yang lebih dulu mengenal nama kami.

Menjelang Lebaran,
tradisi ini kami jaga
seperti menjaga api kecil
agar tak padam oleh zaman.
Silaturahim disambung,
garis keturunan ditegaskan,
ingatan dikembalikan
ke tempat ia seharusnya berdiam.

Bus yang sama,
tawa yang saling menyela,
diam yang tak canggung.
Kami pulang bukan hanya membawa bunga,
tetapi kesadaran
bahwa sejauh apa pun kami melangkah,
akar tetap saling bertaut
di tanah yang sama.

Semoga perjalanan ini
terus berulang
dalam usia-usia yang bertambah,
dalam nama-nama baru yang lahir.
Dan Karang Suci
selalu menjadi tempat
kami belajar pulang—
dengan hati yang utuh,
dan keluarga yang saling menjaga.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts