Ramadhan yang Datang Perlahan
”Ramadhan yang Datang Perlahan”
Engkau datang dengan pertanyaan
yang tidak dibuat-buat.
Tentang Ramadhan yang terasa sama,
tentang harapan yang tidak selalu tumbuh,
tentang takut bahwa semua ini
hanya pengulangan.
Aku tidak akan menegurmu.
Aku tahu, iman juga bisa lelah.
Aku akan berkata:
jangan ukur perjalananmu
dari rasa yang datang dan pergi.
Ukurlah dari arah
yang tetap kau jaga
meski langkahmu pelan.
Puasamu
bukan tentang lapar yang kau rasakan,
tetapi tentang
apa yang kau pilih
untuk tidak kau lakukan.
Jika engkau mampu
menahan satu keburukan kecil,
itu sudah puasa
yang didengar langit.
Ibadahmu
bukan tentang panjangnya waktu,
melainkan tentang
kejujuran hadir.
Allah lebih dekat
kepada hati
yang datang apa adanya
daripada tubuh
yang datang tanpa kesadaran.
Akhlakmu
itulah ibadah
yang paling lama bekasnya.
Jika Ramadhan membuatmu
sedikit lebih sabar,
sedikit lebih lapang,
itu lebih berharga
daripada banyak amalan
yang tidak mengubah siapa pun.
Sedekahmu
tidak selalu berupa harta.
Kadang ia berupa
memaafkan lebih dulu,
menahan kata yang melukai,
atau mengalah
tanpa perlu menang.
Engkau bertanya tentang hidayah.
Ia tidak selalu terasa
seperti cahaya besar.
Sering kali ia hadir
sebagai keengganan halus
untuk kembali ke jalan
yang melukai dirimu sendiri.
Dan tentang Lailatul Qadar—
ya, ia masih penting.
Namun jangan mencarinya
dengan gelisah.
Siapa yang menjaga siangnya
dengan kesungguhan,
malamnya tidak jauh
dari rahmat.
Jika Ramadhanmu terasa sama,
jangan bersedih.
Agama ini
tidak dibangun
untuk membuatmu kagum,
tetapi untuk
menjagamu tetap pulang.
Teruslah berbuat baik
meski tidak terasa istimewa.
Teruslah berjalan
meski langkahmu kecil.
Karena Allah
tidak menunggu
kesempurnaanmu—
Dia menjaga niatmu.
Dan mungkin,
tanpa kau sadari,
itulah Ramadhan
yang paling lembut:
ketika engkau tetap datang,
tetap berharap,
dan tetap dipercaya
meski hanya
dengan hati
yang sederhana.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment