TEGAK PADA NURANI

 “TEGAK PADA NURANI”


Di lorong-lorong kantor yang panjang dan sunyi,
di antara berkas, tanda tangan, dan stempel negara,
ada denyut yang tak pernah tercatat di arsip—
nurani para abdi.

Negeri ini tampak semrawut,
bukan karena tangan yang bekerja,
melainkan karena arah yang ditarik
oleh kepentingan yang saling mendesak.
Tekanan datang bukan dari meja pelayanan,
tetapi dari ruang-ruang politik
yang gemanya sampai ke ruang kerja.

Namun dengarlah—
mesin pemerintahan bukanlah gedung tinggi,
bukan pula kursi empuk kekuasaan.
Motor sejatinya adalah kalian:
para Aparatur Sipil Negara
yang setiap hari memastikan negara hadir
di tengah rakyat.

Falsafah lama pernah berbisik:
“tegak lurus pada atasan.”
Tetapi zaman mengajarkan
tegak lurus tanpa nurani
hanyalah garis tanpa arah.

Tegak lurus yang sejati
bukan kepada orang,
melainkan kepada konstitusi.
Bukan kepada tekanan,
melainkan kepada kebenaran.

Karena kalian bukan bayangan kekuasaan,
bukan budak perintah sesaat.
Kalian adalah penjaga kesinambungan negara,
penjaga akal sehat birokrasi,
penjaga agar kebijakan tak menyimpang
dari tujuan mulianya.

Jika tekanan datang—
jawablah dengan data.
Jika intimidasi muncul—
jawablah dengan prosedur.
Jika ancaman mutasi menghampiri—
ingatlah bahwa jabatan bisa berpindah,
tetapi integritas tak boleh pindah.

Pancasila bukan sekadar lambang di dinding.
Ia adalah kompas di dada.
Kemanusiaan yang adil dan beradab
bukan kalimat hafalan,
melainkan keberanian menolak ketidakadilan.
Keadilan sosial bukan slogan,
melainkan keberpihakan nyata
kepada rakyat yang sunyi.

Dan Panca Prasetya Korpri
bukan seremoni tahunan—
ia janji spiritual:
setia kepada negara,
taat pada hukum,
jujur dalam tindakan,
mengutamakan kepentingan bangsa.

Setia kepada negara
tidak sama dengan setia kepada kekeliruan.
Taat kepada hukum
tidak sama dengan tunduk pada tekanan.
Mengutamakan kepentingan bangsa
tidak sama dengan melindungi kepentingan segelintir orang.

Wahai abdi negeri,
keberanianmu tak perlu berteriak.
Ia cukup berdiri tegak,
tenang, sabar,
namun tak bergeser sejengkal dari prinsip.

Lawan ketidakadilan—
bukan dengan amarah,
tetapi dengan profesionalisme yang tak bisa disangkal.
Bantah kesalahan—
bukan dengan caci,
tetapi dengan argumen yang jernih dan sah.

Karena kekuasaan datang dan pergi,
tetapi sistem yang lurus
akan bertahan lebih lama dari siapa pun.

Di hadapan Tuhan,
jabatan hanyalah amanah sementara.
Dan setiap keputusan yang kalian proses
akan kembali sebagai pertanyaan:
apakah engkau menjaga hak rakyat,
atau membiarkannya tergerus?

Maka kompaklah—
bukan dalam perlawanan emosional,
melainkan dalam kesetiaan pada nilai.
Bersatulah—
bukan untuk melawan pemerintah,
tetapi untuk meluruskan arah pemerintahan.

Negeri ini terlalu berharga
untuk diserahkan pada ketakutan.
ASN bukan roda kecil tanpa suara—
kalian adalah penyangga negara.

Tegaklah.
Tenanglah.
Bersuaralah dengan santun.

Dan biarkan sejarah mencatat
bahwa di masa penuh tekanan,
para abdi negeri memilih
setia pada nurani.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts