AMANAH DI TENGAH ARUS

AMANAH DI TENGAH ARUS

Tentang Improvisasi, Kekuasaan, dan Keberanian yang Tertunda


Di sebuah sore yang ditata rapi,
di lereng sunyi Hambalang,
kursi-kursi disusun dengan jarak yang sopan,
kata-kata dipanggil untuk duduk lebih dulu
sebelum kebenaran sempat berdiri.

Para jurnalis datang dengan buku catatan,
para pakar membawa angka dan keraguan,
dan di tengahnya,
seorang pemimpin merangkai kalimat
seperti seseorang meraba kayu-kayu basah
di tengah arus yang tak pernah berhenti.

Percakapan mengalir,
pertanyaan dijahit dengan kehati-hatian,
jawaban dibingkai dengan optimisme,
namun di sela jeda yang tak tercatat,
terdengar sesuatu yang lebih jujur dari kata:

sebuah bunyi samar—
air yang terus bergerak,
dan tangan-tangan yang belum selesai bekerja.


Kita sedang berenang, katanya tidak langsung,
dan rakit itu… sedang dibuat.

Namun air tidak pernah menunggu.
Ia tidak peduli pada niat baik,
tidak tunduk pada rencana yang setengah matang,
dan tidak memberi waktu bagi mereka
yang masih memilih kayu terbaik
sementara arus telah menarik kaki ke dalam.


Ini bukan kisah tentang strategi.
Ini bukan tarian yang dirancang dengan irama.

Ini adalah improvisasi—
mentah, terburu, dan seringkali tak diakui.

Kayu-kayu diikat bukan karena desain,
tetapi karena tangan butuh pegangan.
Tali-tali disambung bukan karena perhitungan,
melainkan karena takut tenggelam lebih dulu
sebelum sempat berpikir.


Koalisi berdiri seperti tumpukan batang
yang belum tentu saling percaya untuk mengapung bersama.
Setiap simpul adalah kompromi,
setiap ikatan adalah negosiasi yang tak selesai,
dan setiap tambahan adalah beban
yang belum diuji oleh arus sesungguhnya.

Rakit itu bertambah besar,
namun bukan karena kokoh—
melainkan karena takut kehilangan keseimbangan
yang sejak awal memang tak pernah ada.


Di luar sana,
pasar bergerak tanpa menoleh,
dunia berputar tanpa menunggu,
dan rakyat—
mereka tidak membaca metafora,
mereka hanya merasakan:
apakah pijakan ini cukup kuat
untuk menahan hari esok.


Improvisasi punya pesonanya sendiri,
ia memberi kesan hidup,
memberi ruang bagi spontanitas,
memberi ilusi bahwa segala sesuatu
masih mungkin diselamatkan.

Namun improvisasi yang terlalu lama
berubah menjadi pengakuan yang ditunda:

bahwa sejak awal,
tidak ada peta yang benar-benar dipegang,
tidak ada arah yang benar-benar disepakati,
dan tidak ada keberanian
untuk berhenti sejenak
dan mengakui:
kita tersesat.


Di Hambalang, kata-kata berusaha tenang.
Namun air tidak pernah bisa dibohongi.

Ia mencatat setiap keraguan,
menggulung setiap keputusan yang setengah hati,
dan perlahan, tanpa suara,
mengikis kayu-kayu yang belum sempat mengering.


Apa yang terjadi jika rakit itu tak pernah selesai?

Kita tidak tenggelam seketika—
itulah yang paling berbahaya.

Kita akan terus berenang,
meyakinkan diri bahwa ini bagian dari perjalanan,
bahwa arus ini bisa dijinakkan,
bahwa satu kayu lagi, satu ikatan lagi,
akan cukup.

Padahal yang habis bukan hanya tenaga,
melainkan kepercayaan.


Dan suatu hari,
bukan badai yang menjatuhkan kita,
melainkan kelelahan yang kita abaikan,
ketika tangan tak lagi kuat mengikat,
dan kaki tak lagi sanggup mengayuh,
sementara rakit—
masih setengah jadi,
dan arus—
tak pernah berhenti.


Dan di titik itu,
sejarah tidak akan bertanya
seberapa keras kita berenang.

Ia hanya akan mencatat dengan dingin:

bahwa kita pernah diberi waktu untuk membangun,
namun memilih menunda dengan alasan bertahan,
bahwa kita pernah punya kesempatan merancang arah,
namun lebih sibuk merapikan kata daripada fondasi.

Dan ketika akhirnya tenggelam,
bukan karena kita tak mampu melawan arus—
melainkan karena kita terlalu lama percaya
bahwa bertahan adalah bentuk lain dari memimpin.

Lalu, dalam sunyi yang tak lagi bisa ditawar,
akan datang satu pertanyaan yang lebih dalam dari sejarah,
lebih jujur dari rakyat,
dan lebih tak bisa dihindari dari waktu:

apa yang kita bangun
ketika kita diberi amanah?

Sebab kekuasaan bukan sekadar ujian kemampuan,
melainkan ujian kejujuran di hadapan Yang Maha Mengetahui.

Dan di sana—
tidak ada rakit setengah jadi yang bisa disembunyikan,
tidak ada alasan yang bisa mengapung,
tidak ada improvisasi yang bisa menggantikan niat yang lalai.

Yang tersisa hanya jawaban telanjang:
apakah kita memimpin untuk menyelamatkan,
atau sekadar bertahan agar tidak tenggelam lebih dulu.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts