Antara Lapar dan Meja Penuh
“Antara Lapar dan Meja Penuh”
Siang Ramadhan berjalan pelan.
Perut kosong seperti ruang tak berisi.
Tenggorokan kering seperti tanah menunggu hujan.
Di sana,
manusia belajar sesuatu yang sering ia lupakan—
bahwa dirinya rapuh.
Lapar mengajarkan batas.
Haus mengajarkan sabar.
Godaan mengajarkan betapa tipisnya
jarak antara niat dan jatuh.
Sepanjang hari
jiwa dipahat oleh kekurangan.
Namun senja tiba
dengan wajah yang lain.
Meja-meja dipenuhi hidangan.
Piring berderet seperti pesta kemenangan.
Suara tawa memantul dari dinding ke dinding.
Sendok bertemu piring lebih cepat
daripada hati sempat berdoa.
Lapar yang tadi terasa suci
tiba-tiba lenyap dalam keramaian.
Dan puasa—
yang sepanjang hari berdiri tegak
di dalam sunyi—
seakan terdorong pelan
ke sudut ruangan.
Aku duduk di antara semua itu
dan bertanya dalam hati:
Apakah puasa hanya perjalanan
menuju kenyang?
Apakah lapar hanya jembatan
menuju pesta?
Lalu hati menjawab pelan—
seperti suara kecil
yang hampir tenggelam oleh keramaian:
Tidak.
Puasa bukan tentang menunggu makan.
Puasa adalah belajar menahan.
Bukan tentang meja yang penuh,
tetapi tentang hati yang cukup.
Bukan tentang banyaknya hidangan,
tetapi tentang kesadaran
bahwa satu teguk air
sudah cukup menjadi nikmat yang agung.
Ramadhan tidak melarang kebersamaan.
Tidak pula memusuhi tawa.
Tetapi ia berbisik:
Jangan biarkan perut merayakan kemenangan
sementara hati kehilangan pelajaran.
Maka sebelum suapan pertama,
diamkanlah diri sejenak.
Biarkan lapar yang panjang hari itu
mengangkat doa
yang lebih jujur dari biasanya.
Karena jika puasa dijaga dalam hati,
meja penuh tidak akan merusaknya.
Namun jika hati telah lalai,
bahkan sepotong kurma pun
bisa berubah menjadi pesta.
Dan Ramadhan—
yang datang membawa cahaya sunyi—
perlahan berlalu
tanpa sempat benar-benar
menyentuh jiwa.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment