Bhinneka Lebih Dulu

Bhinneka Lebih Dulu


Di kaki Garuda Pancasila,
terbentang pita kecil
yang memikul kalimat besar:
Bhinneka Tunggal Ika.

Sering kita mengucapkannya cepat—
seperti doa yang dihafal sejak sekolah,
tanpa sempat berhenti
pada urutan kata-katanya.

Bhinneka.
Baru kemudian
Tunggal Ika.

Berbeda-beda
lalu satu.

Namun dalam praktik kenegaraan,
sering yang didahulukan justru
keseragaman.

Perbedaan diminta menepi,
keunikan dipoles agar serupa,
suara yang tak sama
disarankan pelan-pelan saja.

Padahal negeri ini lahir
dari hutan yang tak sama warnanya,
laut yang tak sama arusnya,
bahasa yang tak sama bunyinya,
adat yang tak sama caranya
menyebut langit dan tanah.

Di Indonesia,
gunung berbicara dengan bahasa batu,
hutan berbicara dengan bahasa angin,
dan manusia
menyulam ribuan cara hidup
menjadi satu perjalanan bangsa.

Bhinneka—
adalah energi awal republik ini.

Ia seperti mata air
yang memberi sungai banyak arah,
namun semuanya menuju laut yang sama.

Persatuan bukanlah penyeragaman,
melainkan kesediaan untuk saling mengakui.
Bukan memotong cabang-cabang pohon,
melainkan menumbuhkan hutan
agar akarnya saling menguatkan.

Negara yang matang
tidak takut pada perbedaan.
Ia justru menjadikannya strategi.

Dari keragaman gagasan
lahir inovasi.
Dari keberagaman budaya
lahir daya lenting.
Dari banyak sudut pandang
lahir keputusan yang lebih bijak.

Di abad yang bergerak cepat—
ketika teknologi meniadakan jarak,
ketika pengetahuan lahir dari kolaborasi,
ketika masa depan dibangun oleh kreativitas—

bangsa yang seragam akan mudah rapuh,
tetapi bangsa yang majemuk
akan menemukan ribuan cara
untuk bertahan dan maju.

Maka mungkin kita perlu membaca ulang
pita kecil di kaki Garuda itu.

Bhinneka—
bukan ancaman bagi persatuan.

Ia adalah fondasinya.

Sebab yang benar-benar satu
bukanlah yang sama,
melainkan yang mampu berdiri bersama
meski berbeda.

Dan jika suatu hari
Indonesia melangkah jauh ke masa depan—
menjadi bangsa yang besar dalam ilmu,
kuat dalam ekonomi,
dan bijak dalam peradaban—

mungkin itu karena kita akhirnya mengerti
mengapa para pendiri bangsa
menulis kata itu lebih dahulu:

Bhinneka.

Karena dari perbedaan yang dirawat
lahirlah persatuan
yang tidak dipaksakan,
melainkan tumbuh
dari kesadaran bersama
sebagai bangsa.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts