Di Antara Hening dan Pulang
Di Antara Hening dan Pulang
Ada saat
ketika dunia tak lagi berbunyi keras,
seolah segala riuh memilih sujud
pada keluasan yang tak terucapkan.
Aku tidak mencari—
namun diam-diam aku ditemukan.
Di ruang tanpa kata,
di jeda yang tak pernah kupelajari sebelumnya.
Getar itu…
bukan suara, bukan pula cahaya,
namun seperti panggilan yang lembut—
mengalir dari yang tak terlihat
menuju yang paling rahasia dalam diriku.
Aku berhenti mengejar,
dan justru di situlah
segala mendekat.
Waktu melunak,
jarak menghilang,
dan aku—
tak lagi merasa perlu menjadi apa-apa.
Hanya hadir.
Hanya ada.
Hanya menyadari.
Di keheningan itu,
aku melihat betapa kecilnya diriku,
namun sekaligus betapa luasnya kasih
yang melingkupiku tanpa syarat.
Tak ada penghakiman di sana,
tak ada tuntutan untuk sempurna,
hanya penerimaan yang bening—
seperti embun yang jatuh tanpa suara.
Ya Rabb…
jika ini sekelumit dari rahmat-Mu,
mengapa aku sering lupa
di tengah hiruk yang fana?
Aku kira aku jauh,
padahal Engkau lebih dekat
dari detak yang tak pernah kualamatkan.
Aku kira aku sendiri,
padahal setiap sunyi
adalah cara-Mu memeluk
tanpa terlihat.
Kini aku mengerti,
bahwa damai bukan untuk dicari,
melainkan disadari—
bahwa ia telah Engkau titipkan
sejak awal penciptaan.
Jika ini adalah jalan pulang,
biarlah aku melangkah perlahan,
tanpa tergesa, tanpa sombong,
dengan hati yang belajar tunduk.
Bukan untuk menyatu menjadi semesta,
tetapi luluh sebagai hamba
yang akhirnya tahu
ke mana rindu harus kembali.
Dan bila nanti
napas ini Kau panggil pulang,
jangan biarkan aku datang
dengan hati yang masih gaduh.
Izinkan aku tiba
dalam hening yang utuh—
membawa dzikir yang tak terucap,
air mata yang tak terlihat,
dan syukur yang tak lagi mencari alasan.
Sebab pada akhirnya,
yang tersisa bukanlah dunia
yang pernah kurangkul erat,
melainkan Engkau—
yang sejak awal
tak pernah melepaskanku.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment