Di Antara Kata dan Luka

 “Di Antara Kata dan Luka


Ia menulis tentang cahaya,
sementara tangannya masih gemetar dalam gelap.
Ia mengajar tentang kejujuran,
sementara hatinya belum sepenuhnya jujur pada dirinya sendiri.

Apakah itu dusta?
Atau hanya jiwa yang belum selesai belajar?

Kita mudah menuduh:
“Munafik!”
Seakan kita tak pernah berjanji pada langit
lalu lupa saat bumi menggoda.

Bukankah kita juga pernah
berkata sabar
namun marah dalam dada?
Berkata ikhlas
namun berharap pujian manusia?

Di antara kata dan laku
ada jurang bernama perjuangan.
Tidak semua yang jatuh adalah pengkhianat.
Tidak semua yang gagal adalah penipu.

Tetapi hati—
hati tahu niatnya sendiri.

Jika ia menulis untuk topeng,
maka tulisannya akan menjadi saksi yang menuduhnya.
Jika ia menulis untuk mencari Tuhan,
maka setiap kegagalannya adalah tangga.

Wahai jiwa,
jangan sibuk menghitung retak orang lain
hingga lupa memeriksa cerminmu sendiri.

Sebab kemunafikan paling halus
bukan saat orang lain berdusta,
melainkan saat kita merasa sudah suci.

Biarlah kebenaran tetap kita ucapkan,
meski kita masih terseok menjalaninya.
Karena mungkin
yang kita tulis hari ini
adalah doa bagi diri kita esok hari.

Dan Tuhan—
lebih mengetahui
siapa yang berpura-pura,
dan siapa yang sedang berjuang pulang.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts