DI TENGAH DUNIA YANG BERGETAR
”DI TENGAH DUNIA YANG BERGETAR”
Dunia sedang tidak baik-baik saja.
Langit penuh gema perang.
Peta dunia seperti luka lama yang kembali berdarah.
Harga-harga naik,
pasar-pasar gelisah,
dan di banyak rumah
orang tua menatap masa depan anaknya
dengan dahi berkerut.
Kita membaca berita
seperti membaca cuaca badai.
Namun pertanyaan paling sunyi bukanlah:
seberapa besar badai itu?
melainkan:
seberapa dalam akar kita menancap di bumi.
•
Optimisme bukanlah kalimat penyemangat
yang ditulis di baliho pembangunan.
Optimisme adalah ilmu membaca fondasi.
Ia lahir ketika kita tahu
bahwa sebuah bangsa
bukan hanya berdiri di atas grafik ekonomi,
atau pidato para pemimpin,
atau angka pertumbuhan yang berbaris rapi.
Sebuah bangsa berdiri
di atas sesuatu yang jauh lebih tua.
Di atas ketahanan jiwa manusia.
•
Negeri ini telah melewati
krisis yang membuat banyak negara runtuh.
Kita pernah jatuh.
Bangkrut.
Terbelah.
Tertatih.
Namun setiap kali
bangsa ini selalu menemukan cara aneh
untuk tidak benar-benar mati.
Ada sesuatu dalam tanah ini.
Mungkin karena lautnya luas
sehingga kita terbiasa berpikir panjang.
Mungkin karena buminya subur
sehingga kita percaya musim akan kembali.
Atau mungkin
karena sejak dulu rakyatnya tahu
bahwa hidup tidak selalu adil—
namun harapan tetap harus ditanam.
•
Optimisme bukan sekadar percaya
bahwa pemerintah kuat.
Optimisme juga bukan sekadar percaya
bahwa sumber daya kita melimpah.
Optimisme sejati lahir dari kesadaran lain:
bahwa bangsa ini telah belajar bertahan
lebih lama daripada krisis mana pun.
Empat kekuatan sering disebut orang:
ekonomi,
kepemimpinan,
sumber daya,
dan stabilitas.
Namun ada satu kekuatan yang sering tidak dihitung oleh para ekonom:
daya tahan rakyat.
Warung kecil yang tetap buka.
Petani yang tetap menanam.
Guru yang tetap mengajar.
Ibu yang tetap memasak walau harga naik.
Di sanalah ekonomi sesungguhnya berdenyut.
•
Optimisme tidak selalu berteriak.
Kadang ia hanya duduk diam
di rumah sederhana
sambil berkata:
“Besok kita coba lagi.”
Kadang ia berbentuk doa
yang tidak pernah masuk statistik.
Kadang ia berbentuk kesabaran
yang tidak pernah masuk laporan pembangunan.
Namun justru dari sana
peradaban sering diselamatkan.
•
Dunia mungkin sedang gelap.
Perang bisa membakar benua.
Ekonomi bisa membuat bangsa panik.
Pasar bisa runtuh dalam satu malam.
Namun sejarah selalu memperlihatkan
sebuah rahasia yang sunyi:
peradaban tidak runtuh karena badai.
Peradaban runtuh
ketika manusia berhenti percaya
bahwa esok masih layak diperjuangkan.
Dan selama masih ada orang
yang menanam,
mengajar,
membangun,
dan berdoa—
selama itu pula
masa depan belum menyerah.
•
Maka optimisme bangsa ini
bukan hanya berasal dari:
cadangan nikel,
hutan tropis,
atau angka pertumbuhan.
Optimisme kita berasal dari sesuatu yang lebih dalam:
bahwa dalam sejarah panjangnya
negeri ini selalu menemukan cara
untuk bangkit dari kelelahan.
Dan mungkin
itulah rahasia terbesar Indonesia.
Bukan bahwa kita selalu kuat.
Tetapi bahwa
kita selalu pulang dari kejatuhan
dengan hati yang sedikit lebih bijaksana.
•
Karena pada akhirnya
sebuah bangsa tidak bertahan
oleh kekayaan alamnya.
Ia bertahan
oleh iman kolektif
bahwa masa depan
masih mungkin diperbaiki.
Dan selama iman itu hidup
di hati rakyat—
badai sebesar apa pun
hanya akan menjadi
bab lain dalam perjalanan kita.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment