Di Ujung Ketergantungan

Di Ujung Ketergantungan


Di dunia yang bergolak oleh perang dan harga,
angin dari padang pasir yang jauh
mampu menggoyang dapur-dapur negeri ini.

Satu ledakan di cakrawala Timur Tengah,
dan jarum harga minyak bergetar—
seperti kompas yang kehilangan utara.

Di pompa-pompa bensin
orang-orang menatap angka yang naik perlahan,
seolah masa depan dapat diukur
oleh liter yang semakin mahal.

Negara lalu membuka lembar anggaran:
angka-angka berbaris seperti tentara kelelahan,
subsidi dipanggil untuk menutup luka,
defisit berdiri di ujung meja
seperti bayangan yang tak ingin pergi.

Di situlah kita melihat wajah kita sendiri—
sebuah bangsa yang besar oleh tanahnya,
namun sering kecil oleh ketergantungannya.

Minyak datang dari laut orang lain.
Bahan baku datang dari pabrik orang lain.
Teknologi datang dari laboratorium orang lain.

Sementara kita,
terlalu lama percaya bahwa pasar dunia
akan selalu ramah pada nasib kita.

Padahal sejarah berbisik pelan:
bangsa yang menggantungkan hidup
pada tangan luar
akan selalu rapuh di musim badai.

Bukan perang yang paling berbahaya,
melainkan kelemahan yang tak diakui.
Bukan harga minyak yang paling mahal,
melainkan kemerdekaan ekonomi yang tertunda.

Sebab kemandirian tidak lahir
dari pidato panjang di podium,
melainkan dari keberanian menanam industri
di tanah sendiri.

Dari keberanian membangun mesin,
bukan sekadar membeli.
Dari keberanian mencipta energi,
bukan sekadar mengimpor.

Dari keberanian merancang masa depan
bukan hanya menambal krisis hari ini.

Sebuah bangsa menjadi kuat
bukan karena ia tak pernah terdesak,
melainkan karena ia belajar
mengubah tekanan menjadi arah.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti,
strategi adalah bentuk baru dari patriotisme.
Kemandirian adalah bentuk baru dari kemerdekaan.

Dan mungkin suatu hari nanti
ketika badai global datang lagi—
harga minyak melonjak,
perang mengguncang pasar,
dan negara-negara sibuk menyelamatkan diri—

bangsa ini tidak lagi berdiri
sebagai penonton yang cemas.

Melainkan sebagai negeri yang tenang,
karena ia telah menanam kekuatannya sendiri.

Sebab pada akhirnya,
kemerdekaan sebuah bangsa
tidak diukur oleh luas wilayahnya—

tetapi oleh seberapa jauh
ia mampu berdiri
di atas kakinya sendiri.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts