Empat Puluh Enam Tahun
Empat Puluh Enam Tahun
Di sebuah siang yang tak lagi muda,
kami datang dengan langkah yang tak lagi sama—
ada yang tertatih, ada yang perlahan,
namun semua membawa kenangan yang masih hangat.
Reuni ini bukan tentang jumlah,
kursi-kursi kosong justru bercerita lebih jujur—
tentang waktu yang telah memilih jalannya,
tentang nama-nama yang kini hanya disebut dalam doa.
Kami, para lelaki yang dulu berisik di bengkel mesin,
yang tertawa di antara oli dan rumus,
kini duduk melingkar dengan rambut memutih,
membicarakan hidup seperti membongkar mesin lama—
pelan, hati-hati, penuh jeda.
Obrolan kami tetap khas:
sedikit keras, kadang saling potong,
bercampur antara kenangan,
politik ringan, kesehatan,
dan cerita anak-cucu yang diam-diam jadi kebanggaan.
Tak ada lagi ambisi besar yang menggema,
yang ada hanya keinginan sederhana:
menikmati sisa waktu dengan lapang dada,
menjaga keluarga tetap utuh,
menjadi tiang yang masih tegak, meski mulai rapuh.
Dalam halal bihalal ini,
kami saling memaafkan tanpa banyak kata,
karena usia telah mengajarkan—
bahwa yang tersisa bukan siapa yang benar,
melainkan siapa yang masih ada.
Empat puluh enam tahun berlalu,
dan kami sadar—
persahabatan ini bukan sekadar kenangan,
melainkan rumah yang tak pernah benar-benar pergi.
Di antara tawa yang tak sekeras dulu,
dan mata yang kadang berkaca-kaca,
kami pulang dengan hati yang penuh—
meski yang hadir tak banyak,
yang tinggal justru semakin dalam.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment