FASE V — MALAM-MALAM ISTIMEWA
FASE V — MALAM-MALAM ISTIMEWA
Mendekat, menangis, berharap
Hari 21 – I‘tikaf: Mengasingkan Diri bersama Allah
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa yang mencari,
ada saatnya engkau perlu mundur
bukan untuk lari,
tetapi untuk pulang.
I‘tikaf bukan sekadar
berdiam di masjid,
ia adalah keberanian
meninggalkan keramaian
agar engkau bisa mendengar
suara hatimu sendiri—
dan di baliknya,
panggilan Allah yang selama ini
tertutup bising dunia.
Dalam sunyi i‘tikaf,
engkau belajar bahwa
tidak semua kesendirian itu sepi.
Ada kesendirian
yang justru penuh,
karena hatimu tidak lagi
terbagi.
Wahai jiwa,
selama ini engkau sibuk
menjadi segalanya bagi dunia.
Di malam-malam ini,
cukuplah engkau menjadi
hamba.
Tanpa peran.
Tanpa pencitraan.
Tanpa tuntutan.
I‘tikaf mengajarkan
bahwa engkau tidak harus selalu bergerak
untuk bernilai.
Diam yang jujur di hadapan Allah
lebih berharga
daripada ribuan langkah
yang kehilangan arah.
Biarkan pikiranmu yang lelah
rebah dalam sujud.
Biarkan hatimu yang retak
menangis tanpa perlu menjelaskan.
Allah memahami bahasa air mata
lebih dari bahasa kata.
Jika kegelisahan datang,
jangan diusir.
Duduklah bersamanya,
dan bawa ia menghadap Allah.
Di situlah penyembuhan dimulai.
Wahai jiwa,
di dalam i‘tikaf
engkau tidak sedang menjauh dari dunia—
engkau sedang menata ulang
hubungan dengannya.
Agar ketika kembali,
hatimu tidak lagi terseret,
tetapi menuntun.
Maka di hari kedua puluh satu ini,
beranilah mengasingkan diri
demi menemukan kembali
siapa dirimu di hadapan-Nya.
Karena hanya jiwa
yang berani berhenti
yang akan tahu
ke mana harus melangkah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment