Hari 13 – Doa: Percakapan Paling Jujur

Hari 13 – Doa: Percakapan Paling Jujur

Wejangan untuk Jiwa yang Mencari

Wahai jiwa yang mencari,
di hadapan manusia engkau sering memilih kata,
menimbang nada,
menyembunyikan retak.
Namun di hadapan Allah,
tak ada keharusan untuk berpura-pura.

Doa bukan pidato,
bukan rangkaian kalimat indah
yang harus sempurna.
Ia adalah percakapan paling jujur
antara hamba dan Tuhannya.
Di sanalah engkau boleh mengaku lemah
tanpa kehilangan harga diri.

Wahai jiwa,
jangan tunggu hatimu tenang
baru engkau berdoa.
Datanglah dengan kegelisahanmu.
Doa bukan hasil dari ketenangan,
tetapi jalan menuju ketenangan itu sendiri.

Kadang engkau tak tahu apa yang harus diminta.
Kata-kata tercekat,
hanya napas berat dan air mata.
Ketahuilah: Allah mengerti
bahkan doa yang tak terucap.
Diam yang penuh harap
lebih fasih daripada seribu permintaan.

Jangan mengukur doa
dari cepat atau lambatnya jawaban.
Sebagian doa dijawab dengan pemberian,
sebagian dengan penundaan,
dan sebagian dengan penjagaan
dari sesuatu yang tak kau lihat.
Semua adalah jawaban,
meski tidak selalu sesuai harapan.

Wahai jiwa,
ada doa yang mengubah takdir,
dan ada doa yang mengubah dirimu.
Yang terakhir sering kali lebih dalam maknanya.
Karena saat hatimu berubah,
cara hidupmu pun berubah.

Berdoalah bukan hanya saat butuh,
tetapi juga saat lapang.
Bukan hanya untuk dirimu,
tetapi juga untuk orang lain.
Doa yang meluas
akan memperluas dadamu.

Maka di hari ketiga belas ini,
berhentilah sejenak dari kebisingan.
Berbicaralah kepada Allah
dengan bahasa yang paling jujur yang kau punya.
Jika perlu, cukup katakan:
“Ya Allah, aku tidak tahu apa yang aku butuhkan,
tetapi Engkau Maha Tahu.”

Dan di sanalah,
tanpa sorak dan tanpa tanda,
percakapan itu akan menyentuh langit.

Teruskan langkahmu, wahai jiwa.
Selama engkau masih berdoa,
hubunganmu dengan Allah
masih hidup.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts