Hari 14 – Dzikir: Menenangkan Jiwa yang Gelisah
Hari 14 – Dzikir: Menenangkan Jiwa yang Gelisah
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa yang mencari,
kegelisahan tidak selalu datang
karena masalah yang besar.
Sering kali ia hadir
karena hatimu terlalu jauh berjalan
tanpa mengingat dari mana ia berasal.
Dzikir bukan sekadar lafaz yang diulang,
ia adalah jalan pulang bagi hati yang lelah.
Setiap nama Allah yang kau sebut
adalah simpul yang mengikat kembali
jiwamu yang tercerai-berai.
Wahai jiwa,
saat pikiranmu berlari ke mana-mana,
dzikir memanggilnya pulang
tanpa memarahi.
Ia tidak memaksa tenang,
ia mengundang tenang.
Dan ketenangan yang datang karena ingatan
lebih kokoh daripada yang lahir dari pengalihan.
Jangan remehkan dzikir yang terasa hambar.
Hati seperti tanah yang kering,
ia tidak langsung hijau
hanya karena satu kali disiram.
Namun air yang terus mengalir
akan menghidupkan apa yang lama tertidur.
Ada dzikir yang diucap lisan,
ada dzikir yang berdiam di hati.
Keduanya saling menguatkan.
Saat lisan mengingat,
hati belajar hadir.
Saat hati mengingat,
seluruh hidup mulai berdzikir.
Wahai jiwa,
dzikir mengajarkanmu
bahwa engkau tidak harus mengendalikan segalanya
untuk merasa aman.
Cukup ingat Allah,
dan sisanya akan menemukan tempatnya.
Jika kegelisahan datang tiba-tiba,
jangan melawannya dengan kebisingan.
Hadapilah dengan dzikir yang pelan.
Sebut nama-Nya
seperti memanggil seseorang yang sangat kau percaya.
Nama itu akan menjadi jangkar
saat batinmu goyah.
Maka di hari keempat belas ini,
biarkan dzikir menjadi napas kedua.
Bukan untuk melarikan diri dari dunia,
tetapi agar engkau bisa hidup di dalamnya
tanpa kehilangan pusat.
Teruslah mengingat, wahai jiwa.
Selama nama Allah masih di hatimu,
tak ada kegelisahan
yang benar-benar berkuasa.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment