Hari 18 – Memaafkan Luka Lama
Hari 18 – Memaafkan Luka Lama
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa yang mencari,
luka yang paling dalam
sering kali bukan yang paling baru.
Ia tinggal lama di hatimu,
diam,
menjadi cerita yang terus kau ulang
dalam keheningan.
Memaafkan bukan berarti melupakan.
Ia tidak menghapus apa yang terjadi,
tetapi membebaskan hatimu
dari kewajiban untuk terus mengingatnya
dengan rasa sakit.
Yang dilepaskan bukan peristiwa,
melainkan cengkeraman luka.
Wahai jiwa,
selama engkau menggenggam dendam,
engkau terikat pada masa lalu
yang tak bisa kau ubah.
Memaafkan adalah satu-satunya jalan
untuk kembali hadir
di hari ini.
Jangan terburu-buru memaafkan
demi terlihat baik.
Biarkan prosesnya jujur.
Akui sakitmu di hadapan Allah.
Tangisi jika perlu.
Luka yang diakui
lebih mudah disembuhkan
daripada luka yang disembunyikan.
Ingatlah, wahai jiwa,
engkau pun hidup dari ampunan.
Berapa banyak salahmu
yang Allah tutupi tanpa engkau sadari?
Berapa banyak doamu
yang dikabulkan meski hatimu belum sepenuhnya lurus?
Memaafkan bukan hadiah untuk orang lain.
Ia adalah rahmat untuk dirimu sendiri.
Saat engkau memaafkan,
engkau memutus rantai
yang menahan hatimu
agar tak melangkah.
Jika hari ini engkau belum mampu sepenuhnya,
mulailah dengan niat.
Katakan:
“Ya Allah, aku ingin memaafkan,
tetapi aku belum sanggup.
Tolong lembutkan hatiku.”
Doa itu sendiri
sudah membuka pintu.
Maka di hari kedelapan belas ini,
jangan paksa hatimu berlari.
Ajak ia berjalan pelan
menuju kelapangan.
Lepaskan satu demi satu
beban lama
yang tak perlu kau bawa ke masa depan.
Teruslah melangkah, wahai jiwa.
Hati yang memaafkan
tidak menjadi lemah—
ia menjadi ringan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment