Hari 19 – Menjaga Amanah dan Kejujuran
“Hari 19 – Menjaga Amanah dan Kejujuran”
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa yang mencari,
hidup ini penuh titipan.
Waktu, kepercayaan, jabatan, kata-kata,
bahkan dirimu sendiri—
semuanya bukan milikmu,
melainkan amanah.
Kejujuran bukan sekadar berkata benar,
tetapi hidup tanpa topeng.
Ia adalah kesesuaian
antara yang kau simpan di hati
dan yang kau tampakkan dalam perbuatan.
Dan itu, wahai jiwa,
adalah ibadah yang sunyi namun berat.
Amanah sering diuji
bukan saat orang melihat,
melainkan saat engkau sendirian.
Di sanalah kejujuran sejati berdiri—
bukan karena takut hukuman,
tetapi karena sadar
bahwa Allah tidak pernah lengah.
Wahai jiwa,
jangan remehkan kebohongan kecil.
Ia seperti retakan halus
yang perlahan melemahkan bangunan iman.
Kejujuran menjaga hatimu tetap utuh,
meski kadang membuat jalan terasa sempit.
Ada ketenangan
yang hanya dimiliki orang jujur.
Ia tidak sibuk mengingat cerita mana
yang harus dipertahankan,
karena hidupnya satu warna.
Apa adanya.
Dan di situlah kelapangan tumbuh.
Menjaga amanah berarti
menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Menunaikan hak meski tak ditagih.
Mengembalikan yang bukan milikmu
meski tak ada yang menuntut.
Itu bukan kelemahan,
melainkan kemerdekaan batin.
Jika hari ini engkau tergoda
untuk mengambil jalan pintas,
ingatlah:
rezeki tidak pernah tersesat,
dan kebenaran tidak pernah merugikan
dalam jangka panjang.
Apa yang datang dengan cara bersih
akan lebih mudah dijaga.
Maka di hari kesembilan belas ini,
rawatlah kejujuran
seperti engkau merawat iman.
Karena hati yang jujur
adalah tempat aman
bagi cahaya Allah untuk tinggal.
Teruslah melangkah, wahai jiwa.
Saat engkau menjaga amanah,
Allah sedang menjaga langkahmu.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment