Hari 20 – Menjadi Rahmat bagi Sekitar
Hari 20 – Menjadi Rahmat bagi Sekitar
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa yang mencari,
iman yang matang
tidak berhenti di dalam dada.
Ia keluar melalui langkah,
menetes dalam sikap,
dan terasa oleh siapa pun
yang berada di sekitarmu.
Menjadi rahmat
bukan berarti menjadi sempurna.
Ia berarti tidak menambah luka
di dunia yang sudah letih.
Kadang rahmat hadir
bukan sebagai solusi besar,
tetapi sebagai ketenangan kecil
yang meneduhkan.
Wahai jiwa,
jangan ukur dirimu
dari seberapa banyak engkau bicara tentang kebaikan,
tetapi dari seberapa aman orang lain
merasa di dekatmu.
Apakah kehadiranmu
membuat orang lain lebih lapang
atau justru lebih berhati-hati?
Rahmat tidak selalu berbentuk memberi.
Kadang ia berupa menahan.
Menahan amarah,
menahan ego,
menahan keinginan untuk selalu benar.
Di situlah rahmat bekerja
tanpa suara.
Menjadi rahmat berarti
engkau belajar menyapa
tanpa menghakimi,
menasihati tanpa merendahkan,
dan berbeda tanpa melukai.
Bukan karena engkau lebih tinggi,
tetapi karena engkau sadar
bahwa setiap jiwa sedang berjuang.
Wahai jiwa,
Allah tidak memintamu
mengubah seluruh dunia.
Cukuplah satu ruang kecil
di mana orang merasa aman
karena keberadaanmu.
Cukuplah satu hati
yang lebih tenang
karena sikapmu.
Jika hari ini engkau bingung
bagaimana menjadi rahmat,
mulailah dari niat:
“Ya Allah, jangan jadikan aku beban
bagi siapa pun.”
Doa itu akan menuntun langkahmu
lebih dari yang kau duga.
Maka di hari kedua puluh ini,
biarkan imanmu bernapas
di antara manusia.
Jadilah rahmat
tanpa pengumuman,
tanpa tuntutan balasan.
Dan ketahuilah, wahai jiwa,
siapa yang menghadirkan rahmat di bumi,
akan diselimuti rahmat di langit.
Bersiaplah melangkah ke fase berikutnya.
Perjalanan akan semakin sunyi,
dan semakin dekat.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment