Hari 25 – Menanti Lailatul Qadr dengan Hati Bergetar

Hari 25 – Menanti Lailatul Qadr dengan Hati Bergetar

Wejangan untuk Jiwa yang Mencari

Wahai jiwa yang mencari,
Lailatul Qadr tidak selalu datang
dengan cahaya yang terlihat mata.
Sering kali ia hadir
sebagai getar halus di dada,
rindu yang tak bisa dijelaskan,
dan doa yang mengalir
tanpa dipaksa.

Menanti bukan perkara waktu,
melainkan keadaan hati.
Banyak yang terjaga sepanjang malam,
namun sedikit yang benar-benar hadir.
Lailatul Qadr mendatangi
jiwa yang rendah,
bukan ego yang sibuk menghitung.

Wahai jiwa,
jangan bertanya:
“Apakah aku layak?”
Datanglah saja.
Dengan takut dan harap
yang saling berpelukan.
Karena di hadapan Allah,
ketidaksempurnaan yang jujur
lebih dekat
daripada kesalehan yang dibanggakan.

Malam-malam ini,
jangan sibuk menunggu tanda di langit.
Lihatlah ke dalam.
Apakah hatimu lebih lembut?
Apakah doamu lebih sunyi?
Di situlah kemungkinan
sedang mengetuk.

Lailatul Qadr adalah malam
di mana Allah memperlakukan hamba-Nya
bukan berdasarkan catatan masa lalu,
tetapi berdasarkan
kerendahan saat ini.
Dan satu malam
cukup untuk mengubah
arah seumur hidup.

Wahai jiwa,
jika engkau gemetar dalam sujud,
jika air matamu jatuh tanpa alasan jelas,
jika hatimu terasa sangat dekat—
jangan buru-buru bertanya
apakah ini malam itu.
Syukuri saja.
Karena kedekatan itu sendiri
adalah karunia.

Maka di hari kedua puluh lima ini,
tunggulah dengan hati terbuka.
Beribadahlah tanpa tuntutan.
Berdoalah tanpa kepastian.
Dan biarkan Allah
memilih bagaimana Ia
menemui hatimu.

Tenanglah, wahai jiwa.
Siapa yang menanti dengan penuh harap,
telah berada di ambang rahmat yang besar.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts