Hari 29 — Senja Perpisahan, Fajar Keabadian. Kembali sebagai Insan Bertakwa
Wahai jiwa yang mencari
Ramadhan bukanlah tamu biasa.
Ia bukan sekadar bulan yang singgah,
melainkan cermin yang dipasang Tuhan
di hadapan batinmu.
Kini ia berdiri di ambang senja.
Langkahnya pelan,
namun kepergiannya menggetarkan dada.
Hari ke-29 adalah perpisahan—
bukan dengan bulan,
melainkan dengan dirimu yang lama.
Ramadhan tak pernah benar-benar pergi;
ia hanya menguji:
apakah cahaya yang ia titipkan
kau biarkan padam,
atau kau jaga menjadi nyala abadi?
⸻
Di malam-malamnya engkau menahan lapar,
bukan sekadar menahan makan,
tetapi menahan amarah,
menahan sombong,
menahan lidah dari sia-sia.
Engkau belajar bahwa yang paling berat
bukan menahan haus,
melainkan menundukkan ego.
Dan kini, ketika fajar Syawal menunggu,
pertanyaannya bukan:
“Apakah Ramadhan selesai?”
Tetapi:
“Apakah engkau telah selesai
dengan dirimu yang lama?”
⸻
Esok adalah kembali.
Bukan kembali pada kebiasaan,
bukan kembali pada kelalaian,
tetapi kembali sebagai insan bertakwa.
Takwa bukanlah pakaian musiman.
Ia bukan putih yang hanya dikenakan sehari.
Ia adalah kesadaran sunyi
bahwa Allah melihat,
bahkan ketika dunia tak peduli.
Takwa adalah jembatan antara takut dan cinta—
takut kehilangan-Nya,
cinta untuk selalu dekat dengan-Nya.
⸻
Wahai jiwa,
jangan jadikan Ramadhan
seperti ombak yang datang dan pergi,
tinggalkan jejak lalu hilang.
Jadikan ia laut—
yang menetap dalam dirimu.
Jika dulu engkau bangun untuk sahur,
bangunlah kini untuk syukur.
Jika dulu engkau menangis karena dosa,
menangislah kini karena rindu.
Jika dulu engkau menahan diri karena aturan,
tahanlah kini karena kesadaran.
⸻
Perpisahan sejati bukan ketika bulan berlalu,
melainkan ketika hatimu kembali gelap.
Dan kembali fitri bukan berarti kosong,
tetapi jernih—
seperti air yang tahu dari mana ia berasal
dan ke mana ia akan kembali.
Ramadhan telah mendidikmu
menjadi hamba.
Syawal mengujimu
menjadi insan.
Maka melangkahlah dengan tenang.
Bawa cahaya itu ke pasar,
ke kantor,
ke rumah,
ke ruang-ruang sunyi
yang dulu sering kau isi dengan lalai.
Jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi kenangan.
Biarkan ia menjadi nafasmu.
Karena yang dicari Tuhan
bukanlah bulan yang panjang,
melainkan hati
yang istiqamah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment