Ibu, Garis Perempuan yang Teguh

 Ibu, Garis Perempuan yang Teguh


Ia seperti akar tua
yang menembus tanah jauh sebelum kami lahir.
Akar yang sama
yang pernah menguatkan nenek,
dan nenek buyut kami—
perempuan-perempuan yang tidak pernah belajar menyerah.

Ibuku mewarisi garis itu.

Keras seperti batu sungai
yang ditempa arus bertahun-tahun,
tegas seperti matahari pagi
yang tidak pernah lupa terbit.

Lurus jalannya.
Teguh langkahnya.

Namun di balik ketegasan itu
mengalir mata air yang tak pernah kering:
welas asih.

Ia selalu berdiri
di sisi yang lemah.
Selalu bergerak
ketika yang lain memilih diam.
Selalu hadir
ketika ada yang perlu dibela.

Tangannya tak pernah benar-benar berhenti.
Hal kecil dipungutnya.
Hal besar dipikulnya.

Rumah, keluarga, perjuangan,
semua disentuhnya
dengan kesungguhan yang sama.

Dari didikannya
kami belajar berdiri tegak.
Belajar disiplin.
Belajar bahwa setiap masalah
bukan tembok—
melainkan pintu
yang harus dicari gagangnya.

Ia menanamkan dalam kami
jiwa pencari jalan.
Problem solver,
kata dunia sekarang.

Tapi baginya itu sederhana:
“Jangan menyerah sebelum mencoba.”

Bahkan kepada cucu-cucunya
ia tetap perempuan yang sama—
tegas, lurus, mendidik,
dengan cinta yang tidak manja
tetapi menguatkan.

Karena cintanya
bukan sekadar pelukan.
Cintanya adalah arah.

Kini ia telah tenang.
Beristirahat
di pusara keluarga,
bersama ayah
yang pernah berjalan di sampingnya.

Namun perempuan seperti ibu
tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tinggal
di keberanian kami.
Di kedisiplinan yang ia tanamkan.
Di keberpihakan kami pada yang lemah.
Di setiap usaha mencari jalan keluar
saat hidup terasa buntu.

Ia menjadi akar
yang terus memberi makan pohon keluarga ini.

Dan selama kami berdiri tegak,
selama kami bergerak ketika ada yang perlu dibela,
selama kami tidak menyerah pada kesulitan—

ibu masih hidup
di dalam kami.

Tenanglah sekarang, Ibu.
Perjalananmu kuat, panjang, dan penuh makna.

Kami akan meneruskan langkah itu. 

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts