Langkah Kecil yang Setia
Langkah Kecil yang Setia
Tentang menjalani hidup sepenuh hati dan melepasnya sepenuh iman
Jika hidup keras,
aku menghadapinya dengan sabar—
dan sesekali, dengan senyum kecil,
karena bahkan batu pun
lebih ringan ketika hati tidak memberatkan.
Jika hidup menjadi kompleks,
aku mempelajarinya—
kuurai satu per satu,
seperti merapikan benang kusut sambil bersenandung,
sebab tak semua rumit harus ditakuti,
sebagian hanya menunggu dipahami.
Jika jalan terasa sulit,
aku bertahan—
dan kupecah langkah menjadi kecil-kecil,
hari ini cukup satu jengkal,
esok mungkin dua,
dan ternyata jauh pun bisa dicapai
oleh yang tak berhenti berjalan.
Jika keadaan menekan,
aku menata ulang napas—
mencari celah, mencari cara,
atau sekadar mengubah sudut pandang:
bahwa ini bukan beban,
melainkan latihan yang sedang membentukku.
Jika aku jatuh,
aku bangkit sambil tersenyum tipis—
mengusap debu, menertawakan kikuk sendiri,
lalu berkata,
“baiklah, kita coba lagi dengan cara berbeda.”
Jika aku gagal,
aku belajar dengan jujur—
mencatat tanpa menyalahkan,
memperbaiki tanpa merendahkan diri,
karena gagal bukan akhir cerita,
hanya bagian dari cara Tuhan mengajariku.
Jika aku lelah,
aku beristirahat dengan sadar—
menikmati jeda tanpa rasa bersalah,
minum secangkir hangat kehidupan,
lalu kembali melangkah
dengan hati yang diperbarui.
Jika aku ragu,
aku mencari cahaya—
bertanya, membaca, mendengar,
dan kadang menemukan jawabannya
justru dalam diam yang sederhana.
Jika hidup terasa mudah,
aku bersyukur—
dan berbagi sebisaku,
karena kebahagiaan yang disimpan sendiri
seringkali cepat terasa sempit.
Dan jika hari terasa biasa saja,
aku memilih riang—
menyapa langit, menertawakan hal kecil,
mensyukuri napas yang masih setia,
karena ternyata
hidup tidak selalu butuh alasan besar
untuk tetap disyukuri.
Hingga akhirnya aku mengerti,
bahwa tugasku bukan mengatur segalanya,
melainkan berusaha sebaik-baiknya
dengan hati yang jernih—
bersabar saat diuji,
ulet saat berproses,
ikhlas saat melepas,
dan tetap ringan
meski dunia tak selalu ramah.
Lalu di ujung segala ikhtiar,
aku belajar menunduk—
menyerahkan yang tak mampu kugenggam,
merelakan yang tak bisa kupahami,
dan mempercayakan seluruh jalan ini
kepada Kehendak-Mu—
karena pada akhirnya,
aku hanya berjalan,
dan Engkaulah
yang menuntun arah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment