Lebaran yang Menyelamatkan Negeri

Lebaran yang Menyelamatkan Negeri
Bukan dari Kebijakan, tapi dari Kepulangan


Di kota-kota, janji diucapkan seperti angin
ringan, berputar, lalu hilang di tikungan waktu.
Kata-kata dirangkai rapi di meja-meja rapat,
tapi tak pernah benar-benar menjejak tanah.

Sementara di kampung,
tanah retak itu justru berdenyut—
bukan oleh kebijakan,
melainkan oleh langkah kaki yang pulang.

Lebaran datang bukan sekadar hari,
ia adalah arus—
uang yang mengalir dari peluh panjang di perantauan,
menyusuri jalan sempit, masuk ke warung kecil,
ke tangan ibu yang menanak harapan,
ke kantong anak-anak yang belajar bermimpi.

Di sana ekonomi bukan angka,
bukan grafik yang diperdebatkan di layar,
tapi nasi yang mengepul,
hutang yang perlahan lunas,
dan tawa yang tak pernah masuk laporan resmi.

Negeri ini, rupanya,
masih ditopang oleh kesetiaan rakyatnya sendiri—
oleh mereka yang tak menunggu diselamatkan,
yang membangun tanpa sorot kamera,
yang bertahan tanpa tepuk tangan.

Lebaran mengajarkan:
bahwa denyut sejati ekonomi
lahir dari kasih,
dari berbagi,
dari pulang yang tak pernah sepenuhnya usai.

Dan di antara gema takbir,
terselip doa yang diam-diam menggugat:
sampai kapan rakyat harus jadi penyangga
bagi negara yang gemar berjanji?

Namun harapan tak mati di sini—
ia tumbuh di sela-sela kebersamaan,
di tangan-tangan yang saling menggenggam,
di keyakinan bahwa perubahan
tak selalu datang dari atas.

Kadang,
ia lahir dari kampung—
dari lebaran yang sederhana,
namun lebih nyata
dari seribu pidato panjang.

Maka biarlah mereka terus bergerak,
membangun dari bawah dengan sunyi yang agung—
sebab di sanalah bangsa ini sebenarnya hidup,
dan masa depan diam-diam ditulis
oleh rakyatnya sendiri.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts