Menjelang Purna
Menjelang Purna
Di ujung jalan yang tak lagi riuh oleh target dan rapat,
aku berdiri—bukan lelah,
melainkan lapang.
Waktu yang dulu berlari mengejar,
kini berjalan di sampingku,
menawarkan jeda,
dan secangkir makna.
Tak sabar, iya—
bukan untuk berhenti,
tetapi untuk mulai dengan cara yang baru.
Aku ingin duduk di lantai,
bermain dengan tawa cucu-cucu,
menghitung bahagia dari hal-hal kecil
yang dulu terlewat.
Aku ingin hadir,
lebih utuh untuk anak-anak—
bukan sekadar penopang,
tapi teman perjalanan.
Di sela pagi yang masih bening,
langkah-langkah kecil berderap di jalan sunyi—
jogging, napas, doa,
menjaga tubuh yang setia mengabdi.
Siang hari mungkin diisi cerita usaha,
bertemu kawan, tertawa ringan,
membangun rezeki tanpa tergesa—
produktif, namun tetap merdeka.
Aku belajar,
bahwa santai bukan berarti berhenti,
melainkan bekerja dengan jiwa yang tak lagi terbelenggu.
Aku ingin memberi—
meski sedikit,
meski seadanya,
karena tangan yang terbuka
lebih lapang dari yang menggenggam.
Dan pada akhirnya,
aku hanya ingin hidup yang sederhana:
dijalani, dinikmati, disyukuri.
Jika hari-hari ini adalah bab baru,
biarlah kutulis dengan sabar—
dengan iman sebagai tinta,
dan syukur sebagai titik akhir setiap kalimat.
Sebab purna bukanlah usai,
melainkan pulang perlahan
kepada makna,
dan kepada-Nya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment