Sedekah dari Tangan yang Bergetar

Sedekah dari Tangan yang Bergetar


Di sudut kota,
ia bangun masjid dari angka-angka yang disembunyikan,
dari tanda tangan yang dibelokkan,
dari kepercayaan yang digadaikan diam-diam.

Azan berkumandang dari menara yang ia dirikan,
tapi gema itu memantul
ke ruang batin yang tak pernah ia bersihkan.

Ia memberi—
beras untuk yang lapar,
uang untuk yang kehilangan harap,
senyum untuk yang tak tahu
dari mana asal semua itu.

Dan dunia memanggilnya dermawan.

Namun di malam yang sunyi,
ketika tak ada tepuk tangan,
tak ada kamera,
tak ada nama yang dielu-elukan,

ada sesuatu yang mengetuk—
pelan,
tapi tak bisa diabaikan.

“Dari mana tanganmu belajar memberi,
jika hatimu belum belajar berhenti mengambil?”

Ia terdiam.

Sebab sedekahnya mengalir,
tapi dosanya tak pernah berhenti menetes.

Ia mencoba menutup langit dengan recehan,
menawar keadilan dengan kebaikan yang setengah,
seolah Tuhan bisa dibujuk
dengan sisa dari sesuatu yang bukan miliknya.

Padahal Tuhan tidak lapar.

Yang lapar adalah nuraninya.

Dan sedekah itu—
bukan cahaya,
jika ia lahir dari gelap yang tak mau diakui.

Maka suatu hari,
ia harus memilih:

menjadi tangan yang bersih meski kosong,
atau tangan yang penuh
namun bergetar
setiap kali menyentuh doa.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts