Semboyan Ayah: DUIT
”Semboyan Ayah: DUIT”
Di rumah kami
ada satu semboyan sederhana,
empat huruf yang terdengar seperti candaan
namun diam-diam memuat samudra makna.
Ayah menyebutnya: DUIT.
Bukan sekadar uang
seperti yang sering dipikir orang,
tetapi jalan hidup yang ia ukir
dari doa yang panjang
dan peluh yang jujur.
D adalah Doa.
Sebelum matahari benar-benar terbit,
sebelum dunia memulai riuhnya,
ayah telah lebih dulu menengadahkan tangan
di antara sunyi subuh.
Doanya tidak keras,
tidak pula panjang yang menggurui.
Ia hanya berbicara perlahan kepada langit
seperti seorang hamba
yang tahu kepada siapa ia pulang.
Dalam doa itu
kami—anak-anaknya—selalu disebut.
Bukan dengan kata yang megah,
tetapi dengan harapan yang sederhana:
agar hidup kami lurus,
agar langkah kami dijaga,
agar hati kami tidak lupa
kepada Yang Maha Memberi.
U adalah Usaha.
Ayah percaya
bahwa langit mencintai orang-orang
yang tidak malas mengetuk pintunya.
Ia bekerja seperti sungai mengalir—
tenang,
namun tidak pernah berhenti.
Kadang dunia terasa berat,
kadang hasil tak sebanding dengan keringat,
namun ayah tidak pernah menawar
kesungguhannya sendiri.
Ia mengajarkan kami
bahwa kerja adalah bentuk doa yang lain,
bahwa tangan yang bergerak
adalah cara manusia
menghormati nikmat kehidupan.
Dari ayah kami belajar
bahwa kehormatan bukan pada hasil semata,
tetapi pada kesungguhan
yang tidak pernah berkhianat pada dirinya sendiri.
I adalah Ikhlas.
Ini pelajaran yang paling sunyi.
Ayah tidak banyak bicara tentangnya,
tetapi kami melihatnya
dalam caranya menerima dunia.
Ketika berhasil,
ia tidak meninggikan suara.
Ketika gagal,
ia tidak menyalahkan siapa pun.
Seperti pohon yang tetap memberi teduh
meski tak semua orang berterima kasih.
Ayah mengajari kami
bahwa ikhlas bukan kelemahan,
melainkan kekuatan yang paling tenang.
Sebab orang yang ikhlas
tidak menggantungkan hatinya
pada tepuk tangan manusia.
Ia hanya menaruhnya
pada keridhaan Tuhan.
T adalah Tawakal.
Setelah doa dipanjatkan,
setelah usaha dilakukan,
setelah hati diluruskan—
ayah menutup semuanya
dengan satu sikap yang agung.
Tawakal.
Ia seperti seorang pelaut
yang telah mengikat layar dengan benar,
mengatur arah sebaik mungkin,
lalu menyerahkan angin
kepada kehendak Tuhan.
“Yang penting kita sudah berusaha,”
kata ayah sering kali.
Dan dari kalimat sederhana itu
kami belajar tentang ketenangan.
Bahwa hidup tidak harus selalu menang
untuk tetap terasa bermakna.
Bahwa hasil adalah rahasia langit,
sedangkan usaha
adalah kehormatan manusia.
⸻
Kini ketika kami dewasa
dan dunia terasa semakin luas,
kami menyadari sesuatu.
Semboyan ayah bukan sekadar kata.
Ia adalah warisan.
Warisan yang tidak ditulis di batu,
tidak disimpan di bank,
tetapi hidup
di dalam cara kami memandang kehidupan.
Kami melihat ayah
bukan hanya sebagai kepala keluarga,
tetapi sebagai kompas yang diam-diam
menunjukkan arah.
Ia tidak pernah meminta kami menjadi hebat,
ia hanya meminta kami menjadi benar.
Dan mungkin,
di mata dunia
ayah hanyalah lelaki biasa—
tetapi bagi kami
ia adalah bukti
bahwa keteladanan tidak perlu panggung,
bahwa kebijaksanaan bisa lahir
dari rumah yang sederhana.
Sebab di dalam hidup ayah
kami melihat satu kebenaran yang jernih:
bahwa manusia boleh merencanakan,
boleh berusaha sekuat tenaga,
boleh berharap setinggi langit—
namun pada akhirnya
segala sesuatu akan kembali
kepada Tuhan.
Dan di sanalah
semboyan itu menemukan maknanya:
Doa.
Usaha.
Ikhlas.
Tawakal.
Empat kata sederhana
yang menjadikan ayah kami
bukan hanya orang tua,
tetapi
teladan hidup.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment