Senja Terakhir yang Enggan Pergi
Senja Terakhir yang Enggan Pergi
Catatan sunyi tiga puluh hari yang perlahan pamit
⸻
I. Awal yang Penuh Niat
Ramadhan datang seperti tamu lama—
disambut dengan janji yang bergetar di dada,
niat-niat disusun rapi
seperti doa yang baru dipelajari kembali.
Ada semangat yang mengalir deras,
ingin menjadi lebih baik, lebih bersih,
seolah waktu memberi kesempatan
untuk memulai ulang segalanya.
Namun di balik itu,
terselip harap yang sederhana:
agar kali ini tidak hanya berjanji,
tetapi benar-benar berubah.
⸻
II. Hari-hari yang Menguji
Lalu hari berjalan—
tidak selalu ringan,
tidak selalu khusyuk seperti yang dibayangkan.
Lapar menjadi nyata,
lelah terasa panjang,
dan hati kadang goyah
oleh hal-hal kecil yang tak terduga.
Di sana terlihat wajah diri yang sebenarnya—
yang mudah tersinggung,
yang masih sering lalai,
yang belum sepenuhnya mampu menjaga.
Namun justru di situlah pelajaran tumbuh:
bahwa menjadi baik
adalah proses yang jujur dan perlahan.
⸻
III. Pertengahan yang Menyadarkan
Di tengah perjalanan,
ritme mulai menemukan bentuknya—
tidak lagi terburu-buru,
tidak lagi sekadar mengejar.
Ada ketenangan yang diam-diam hadir,
dalam doa yang lebih pelan,
dalam langkah yang lebih sadar,
dalam hati yang mulai menerima dirinya.
Kesadaran itu lembut:
bahwa perubahan tidak harus sempurna,
cukup terus dijaga,
meski kecil dan sederhana.
⸻
IV. Malam-malam yang Mendalam
Lalu malam menjadi lebih sunyi—
lebih panjang, lebih dalam.
Doa-doa tidak lagi sekadar kata,
melainkan kerinduan yang sungguh,
air mata yang tidak direncanakan,
dan pengakuan yang tak bisa disembunyikan.
Di sana,
hati benar-benar pulang—
bukan karena sudah suci,
tetapi karena akhirnya jujur.
Dan dalam kejujuran itu,
rahmat terasa begitu dekat.
⸻
V. Ujung yang Mengharukan
Kini Ramadhan hampir pergi—
langkahnya pelan,
namun pasti menjauh.
Ada yang belum sempat dilakukan,
ada yang masih terasa kurang,
dan ada rindu yang bahkan belum sempat tumbuh
sudah harus dilepas.
Waktu ternyata begitu cepat
bagi yang mulai mencintai kehadirannya.
Dan di ujung ini,
yang tersisa bukan penyesalan,
melainkan keinginan diam-diam:
andai diberi kesempatan lagi.
⸻
VI. Hening yang Menyerahkan
Hari terakhir berdiri dengan sunyi—
tidak lagi riuh oleh rencana,
tidak lagi penuh oleh target.
Hanya ada hati
yang perlahan menunduk.
Segala usaha telah dijalani,
segala niat telah diupayakan,
segala kekurangan telah disadari—
dan kini,
tidak ada lagi yang bisa digenggam.
Dengan tenang,
semua diserahkan—
amal yang mungkin belum layak,
doa yang mungkin belum sempurna,
dan diri yang masih belajar menjadi hamba.
⸻
Ramadhan pun pergi,
bukan sebagai akhir,
melainkan sebagai jejak—
yang tertinggal dalam cara berpikir,
dalam cara bersikap,
dalam cara memandang hidup.
Dan di dalam hati yang lebih hening,
tersimpan satu keyakinan lembut:
bahwa yang berlalu telah mendidik,
yang tersisa akan menjaga,
dan yang akan datang
semoga menemukan diri ini
sedikit lebih siap.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment