Setelah Ramadhan

 EPILOG

Setelah Ramadhan


Akhirnya Ramadhan berlalu, seperti senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
Ia datang membawa cahaya, lalu pergi meninggalkan jejak yang seharusnya tetap tinggal di dalam hati.

Selama dua puluh sembilan hari kita belajar menahan diri, menata niat, dan mendekat kepada Tuhan dengan cara yang mungkin jarang kita lakukan di bulan-bulan lain.
Namun sesungguhnya, Ramadhan bukanlah tujuan akhir.
Ia adalah latihan bagi perjalanan yang lebih panjang setelahnya.

Kini ketika gema takbir telah berlalu dan hari-hari kembali berjalan seperti biasa, pertanyaannya menjadi sederhana namun mendalam:
apakah cahaya Ramadhan masih kita bawa?

Jika kesabaran yang kita latih tetap hidup,
jika doa yang kita panjatkan masih kita ingat,
dan jika hati kita masih terasa lebih lembut dari sebelumnya,
maka Ramadhan tidak benar-benar pergi.

Ia tetap tinggal—
dalam sikap, dalam kata, dan dalam langkah hidup kita.

Semoga setiap Ramadhan yang datang menjadikan kita manusia yang sedikit lebih bijak, sedikit lebih sabar, dan sedikit lebih dekat kepada Tuhan.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts