Tiga Wajah dalam Satu Nafas

Tiga Wajah dalam Satu Nafas


Di rumah yang sempit namun penuh makna,
ia berdiri sebagai pusat semesta kecil,
membagi nasi, waktu, dan harapan
dengan tangan yang tak selalu dipahami.
Aturannya sederhana: semua harus cukup,
tak ada yang terlalu kenyang,
tak ada yang dibiarkan lapar.
Di sana, diam-diam ia menanam benih
Komunisme
bukan dari buku,
melainkan dari rasa takut kehilangan keadilan.

Namun dunia tak berhenti di ambang pintu.

Di lorong-lorong kampung yang berdebu,
ia menjelma menjadi bahu bagi yang rapuh,
menyambung tangan-tangan yang hampir putus harap.
Ia tahu, hidup tak selalu adil,
tapi bisa dibuat lebih layak
jika hati mau berbagi.
Ia tak lagi mengatur,
ia merangkul.
Dan di antara tawa sederhana dan luka yang disembunyikan,
ia menghidupi semangat
Sosialisme
bukan sebagai doktrin,
melainkan sebagai nurani yang menolak diam.

Lalu ia melangkah lebih jauh—
ke ruang-ruang dingin bernama negara dan kepentingan,
di mana kata-kata dipoles menjadi alat,
dan senyum bisa menyimpan perhitungan.
Di sana, ia belajar satu hal yang getir:
bahwa dunia digerakkan oleh mereka yang berani mengambil.
Relasi menjadi mata uang,
kepercayaan menjadi investasi,
dan kadang, manusia menjadi alat.
Dalam sunyi yang tak pernah diakui,
ia pun menari dalam logika
Kapitalisme
bukan karena ia sepenuhnya percaya,
tetapi karena dunia menuntutnya demikian.

Dan ketika malam turun,
ia kembali menjadi dirinya sendiri—
atau mungkin, seseorang yang mencoba mengingat
siapa dirinya sebelum semua peran itu ada.

Apakah ia penguasa kecil di rumah?
Seorang saudara di kampung?
Atau pemain dalam panggung besar bernama negara?

Atau…
hanya manusia yang terus bernegosiasi
dengan keadaan?

Barangkali kebenaran tak pernah tunggal.
Ia pecah menjadi serpihan-serpihan sikap,
yang kita kumpulkan
sesuai luka, cinta, dan kebutuhan.

Dan dalam pecahan itu,
kita belajar satu hal yang sunyi namun jujur:

bahwa manusia bukanlah satu ideologi,
melainkan perjalanan—
yang kadang mengatur,
kadang memberi,
kadang mengambil,

dan diam-diam
selalu mencari cara
untuk tetap menjadi manusia.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts