Air yang Membakar, Hukum yang Membisu

Air yang Membakar, Hukum yang Membisu


Bukan api,
namun lebih kejam dari nyala—
air itu jatuh di wajah seorang manusia,
dan sejak itu,
yang meleleh bukan hanya kulit,
tetapi juga rasa aman sebuah bangsa.

Di negeri yang mengaku menjunjung hukum,
peristiwa itu seharusnya mengguncang langit,
membangunkan nurani yang tertidur
di kursi-kursi kekuasaan.

Namun yang terdengar justru
langkah-langkah ragu,
proses yang berliku,
dan kata-kata resmi
yang dingin seperti jarak antara rakyat dan keadilan.

Waktu berjalan—
terlalu lama untuk sebuah luka
yang tak pernah memilih untuk ada.
Dan publik menunggu,
dengan tanya yang menggantung:
apakah hukum sedang mencari kebenaran,
atau sekadar mencari akhir cerita?

Wahai penegak keadilan,
bukankah hukum itu cahaya?
Mengapa ia tampak redup
ketika yang terluka adalah keberanian?

Apakah kebenaran kini harus bernegosiasi,
atau menunggu izin
untuk berdiri tegak di hadapan kekuasaan?

Air keras itu mungkin telah kering,
namun bekasnya menjalar ke mana-mana:
ke ruang redaksi,
ke meja-meja penyelidikan,
ke hati rakyat yang mulai bertanya—
apakah bersuara adalah risiko
yang harus dibayar dengan luka?

Negeri ini tidak kekurangan undang-undang,
tidak pula kekurangan pidato tentang keadilan.
Yang kurang adalah keberanian
untuk menjadikan hukum
lebih tinggi dari rasa takut kehilangan kuasa.

Sebab ketika kekerasan dibiarkan
atau diperlakukan seperti perkara biasa,
yang runtuh bukan hanya satu tubuh—
tetapi kepercayaan
yang selama ini menopang demokrasi.

Namun sejarah selalu menulis ulang dirinya,
dengan tinta dari keberanian yang tersisa.
Dan suatu hari nanti,
akan ada generasi yang bertanya:
di mana kalian
ketika keadilan disiram dan dibiarkan mengering?

Semoga jawabnya bukan diam.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts