Antara Gema Kuasa dan Sunyi Nurani
Antara Gema Kuasa dan Sunyi Nurani
Ada saat ketika dunia menjadi panggung yang nyaris tak bersuara,
namun justru di situlah makna paling nyaring bekerja—
di antara keputusan yang tampak tegas
dan keraguan yang tak pernah diucapkan.
Dalam bayang purba yang diwariskan waktu,
hadir sosok bernama Duryodana—
bukan sekadar tokoh,
melainkan simpul dari pertanyaan lama:
sejauh mana kuasa dapat berjalan
tanpa kehilangan arah pulang?
Ia tidak kekurangan kekuatan,
tidak pula kekurangan keyakinan.
Namun di antara keduanya,
ada ruang yang tak terjaga—
tempat di mana nurani seharusnya bersemayam.
Ambisi, ketika tak lagi dituntun kesadaran,
akan menjelma gema
yang hanya memantulkan diri sendiri.
Dan dalam gema itu,
kebenaran perlahan berubah menjadi sesuatu
yang ingin didengar,
bukan yang perlu dipahami.
Duryodana tidak sekadar jatuh,
ia menjauh—
dari keseimbangan yang seharusnya menjaga,
dari suara yang tak pernah memaksa
namun selalu mengingatkan.
Di lembar zaman yang lain,
manusia nyata melangkah tanpa kelir,
tanpa pakem yang menuntun akhir cerita.
Di sana, nama Prabowo berdiri
sebagai bagian dari arus yang hidup—
bukan bayang,
melainkan kehendak yang terus diuji.
Dalam kenyataan,
kepemimpinan bukan lakon yang telah selesai ditulis,
melainkan pilihan yang terus diperbarui:
antara mendengar dan hanya ingin didengar,
antara memimpin dan sekadar menguasai.
Sebab hakikat kuasa bukan pada tinggi letaknya,
melainkan pada dalam akarnya.
Ia bertanya diam-diam:
apakah keputusan lahir dari kejernihan,
atau dari gema yang tak lagi mengenal batas?
Raja menjadi jauh
bukan ketika ia tak terlihat,
melainkan ketika ia tak lagi merasakan.
Dan pemimpin menjadi dekat
bukan karena hadirnya,
melainkan karena ia memberi tempat
bagi yang tak memiliki suara.
Di situlah bayang menemukan maknanya—
bukan untuk disamakan,
melainkan untuk direnungkan.
Bahwa setiap kuasa membawa kemungkinan:
menjadi jarak
atau menjadi jembatan.
Sejarah, dengan kesabarannya yang dalam,
tidak tergesa memberi putusan.
Ia menunggu hingga segala riuh mereda,
lalu menyisakan satu tanya yang sederhana:
apa yang tertinggal—
jejak kekuasaan,
atau jejak kebijaksanaan?
Dan pada akhirnya,
yang abadi bukanlah siapa yang paling lama berkuasa,
melainkan siapa yang tetap utuh
menjaga nurani
di tengah luasnya kesempatan menjadi segalanya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment