Di Antara Kuasa dan Nurani

Di Antara Kuasa dan Nurani

Puisi tentang posisi ASN sebagai penjaga konstitusi—setia tanpa buta, kritis tanpa gaduh, dan tegak untuk negara, bukan penguasa.


Di antara pasal-pasal yang tak pernah tidur,
kami berdiri—bukan bayang-bayang kuasa,
bukan gema tepuk tangan yang hampa,
melainkan denyut sunyi dari sebuah negara
yang ingin tetap waras di tengah riuh sejarah.

Kami bertanya, pelan namun tak gentar:
untuk siapa kami bekerja?
Bukan untuk kursi yang silih berganti,
bukan untuk nama yang hari ini diagungkan,
lalu esok dilupakan.

Kami bekerja untuk sesuatu yang lebih panjang dari umur jabatan—
sebuah janji bernama konstitusi,
sebuah wajah kolektif bernama rakyat,
sebuah cita yang belum selesai bernama Indonesia.

Namun ketaatan sering disalahpahami
sebagai kepasrahan tanpa akal.
Padahal kami diajarkan membaca,
menimbang,
dan bila perlu—
menyela dengan data yang jujur
dan nurani yang tidak bisa dibungkam.

Kami bukan penentang,
tapi juga bukan pengangguk abadi.
Di lorong-lorong birokrasi,
kami merawat keberanian yang sunyi:
mengatakan “tidak” tanpa berisik,
mengoreksi tanpa meruntuhkan,
menjaga arah tanpa perlu terlihat sebagai pahlawan.

Sebab loyalitas kami bukan kepada wajah,
melainkan kepada dasar—
pada hukum yang seharusnya tegak,
pada etika yang tak boleh ditawar,
pada masa depan yang menuntut keberanian hari ini.

Dan jika suatu hari
kebijakan kehilangan kompasnya,
kami tidak akan menjadi roda yang membawanya jatuh lebih cepat.
Kami akan menjadi rem—
meski sering tak disukai,
meski kadang dianggap menghambat,
namun justru menyelamatkan perjalanan.

Di masa depan, kami tak ingin lagi dikenal
sebagai pelaksana yang patuh tanpa suara,
tetapi sebagai penjaga sistem—
yang mengerti kapan harus melangkah,
dan kapan harus berdiri tegak menghadang kesalahan.

Merit akan menjadi bahasa kami,
bukan kedekatan.
Integritas menjadi mata uang,
bukan loyalitas sempit yang mudah dibeli.

Kami akan netral—
tapi bukan kosong.
Kami akan diam—
tapi bukan tanpa sikap.

Di dunia yang bergerak cepat,
di mana keputusan bisa lahir dari algoritma
dan kekuasaan bisa dibungkus citra,
kami adalah pengingat bahwa negara
bukan sekadar mesin—
ia adalah amanah.

Dan di situlah kami berpijak:
di antara perintah dan pertimbangan,
di antara struktur dan nurani,
di antara hari ini dan masa depan.

Kami adalah ASN—
bukan alat kekuasaan,
melainkan penyangga republik
agar tidak runtuh oleh dirinya sendiri.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts