Di Antara Nikmat yang Terlupa dan Doa yang Tak Pernah Usai
Di Antara Nikmat yang Terlupa dan Doa yang Tak Pernah Usai
Fabiayyi…
aku mengucapnya lirih,
kadang fasih di bibir,
namun tercecer di hati
seperti kunci yang kutaruh sendiri—
lalu lupa di mana.
Nikmat-Mu datang tanpa suara,
tidak mengetuk, tidak meminta izin,
tiba-tiba saja
aku sudah berdiri di puncak yang dulu kupandangi dari bawah.
Sekolah tinggi—
aku bilang, “ini hasil kerja keras.”
Karier cemerlang—
aku tambahkan, “ini strategi dan usaha.”
Keluarga hangat—
aku tersenyum, “ini takdir yang baik.”
Tubuh sehat—
aku anggap biasa,
seperti udara: ada, ya sudah.
Padahal Engkau
diam-diam menuliskan semua itu
di buku tak terlihat
yang tak pernah kubaca sampai selesai.
Aku hidup tenang,
bahkan terlalu tenang
hingga lupa bertanya:
tenang ini milik siapa?
Lalu di sela-sela kelengkapan itu,
tumbuhlah keinginan
seperti rumput liar di halaman hati—
dipangkas, tumbuh lagi,
dipenuhi, muncul lagi.
Ya Tuhan,
aku ini lucu ya—
sudah kenyang, masih mencari camilan,
sudah teduh, masih sibuk mencari payung baru.
Aku bilang aku bersyukur,
dan mungkin benar—
tapi syukurku kadang seperti ucapan formal
di akhir pidato panjang:
“Terima kasih atas perhatiannya,”
lalu selesai, lalu lupa.
Aku bilang aku ikhlas,
tapi masih menyelipkan daftar kecil
di balik doa:
“Kalau boleh, tambahkan ini… sedikit saja.”
Maka aku bertanya pada-Mu,
dengan hati yang agak malu,
dan sedikit tertawa pada diri sendiri:
Apakah aku mendustakan nikmat-Mu,
atau hanya belum benar-benar melihatnya?
Ajari aku, Tuhan,
cara berhenti sejenak
tanpa merasa tertinggal.
Ajari aku
menikmati cukup
tanpa merasa kalah.
Ajari aku
menggenggam tanpa memiliki,
mencintai tanpa menguasai,
berharap tanpa memaksa.
Kalau Engkau beri lebih,
jadikan aku ringan menerimanya.
Kalau Engkau tahan,
jadikan aku lapang menjalaninya.
Karena mungkin,
yang kurang bukan nikmatnya—
melainkan caraku memandangnya.
Dan jika suatu hari
aku masih juga meminta,
masih juga berharap,
masih juga bermimpi—
biarkan itu bukan karena kosong,
melainkan karena ingin lebih dekat
pada-Mu.
Fabiayyi…
kali ini aku tidak ingin sekadar mengucap,
aku ingin tinggal
di dalam maknanya.
Bahwa setiap detik yang biasa ini,
sebenarnya luar biasa—
dan aku…
hanya perlu sadar
sebelum Engkau mengingatkan
dengan cara yang berbeda.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment