Hari yang Lapang, dan Sedikit Lebih Dalam
Hari yang Lapang, dan Sedikit Lebih Dalam
Hari ini datang tanpa tergesa,
membentangkan waktu seperti meja panjang
yang belum diisi apa-apa—
dan anehnya, tidak terasa kurang.
Tak ada rapat yang memanggil nama,
tak ada daftar hadir yang perlu diyakinkan.
Jam dinding tetap bekerja, tentu saja,
tapi kali ini, bukan untuk mengejar siapa-siapa.
Dulu, kesibukan adalah kehormatan:
siapa paling lelah, dia paling berarti.
Kalender penuh adalah prestise,
dan jeda sering dianggap kelemahan yang harus disamarkan.
Kini, hari berdiri tanpa dekorasi.
Polos, nyaris tidak ambisius—
seolah berkata dengan santun,
“tidak semua yang kosong perlu ditakuti.”
Telepon memilih sopan, tidak mengganggu.
Pesan-pesan datang dengan etika baru:
seperlunya, tidak memaksa.
Dan teman-teman, ah—
barangkali sedang merawat waktu mereka juga,
dengan cara yang diam-diam serupa.
Ada ironi yang halus di sini:
ketika waktu akhirnya longgar,
kita justru menyadari
betapa lama kita hidup dalam kepadatan
yang kita anggap pilihan.
Padahal mungkin hanya kebiasaan.
Di luar, matahari tetap konsisten
tanpa pernah mengisi formulir kehadiran.
Angin bergerak secukupnya,
tidak sibuk menjelaskan arah.
Bahkan bayangan pun setia mengikuti,
tanpa pernah menuntut arti.
Barangkali selama ini,
kita terlalu sering mengira
bahwa hidup harus diisi penuh
agar terasa utuh.
Maka aku berdiri—tenang saja,
tanpa perlu alasan yang dramatis.
Langkah diambil bukan untuk melawan sepi,
melainkan untuk berdamai
dengan ruang yang dulu jarang diberi kesempatan.
Dan perlahan kusadari,
kesibukan bukan satu-satunya bentuk keberadaan.
Diam pun bekerja,
hening pun menyusun sesuatu
yang tak selalu tampak.
Barangkali ini bagian yang dulu terlewat:
bahwa hidup tidak hanya tentang bergerak,
tetapi juga tentang mengerti
ke mana sebenarnya ingin pulang.
Sebab pada akhirnya,
segala yang pernah dikejar
akan berhenti pada satu titik yang sama—
bukan pada jadwal,
bukan pada jabatan,
melainkan pada ketenangan
yang tidak lagi meminta pembuktian.
Dan di hari yang lapang ini,
tanpa banyak suara, tanpa banyak rencana,
ada yang pelan-pelan menjadi jelas:
bahwa waktu bukan sekadar untuk diisi,
melainkan untuk disadari—
bahwa kita tidak pernah benar-benar berhenti,
hanya sedang dipanggil
untuk berjalan lebih dalam.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment