Ibuku, Kartiniku

 Ibuku, Kartiniku


Di matamu, aku belajar arti terang
bukan dari cahaya yang lembut,
melainkan dari nyala yang tak pernah padam—
teguh, kadang keras, namun selalu hangat di dalam.

Engkau menenun hari-hari dengan tangan lelah,
menganyam harapan dari kekurangan,
mengubah tangis menjadi pelajaran,
dan jatuh menjadi pijakan untuk bangkit kembali.

Tegasmu adalah pagar,
yang menjagaku dari dunia yang tak selalu ramah.
Welas asihmu adalah pelukan,
yang tak pernah bertanya mengapa aku rapuh.

Engkau berdiri di garis depan,
saat banyak memilih diam.
Mengangkat suara bagi yang tak terdengar,
merangkul mereka yang terabaikan.
Langkahmu bukan sekadar hidup—
ia adalah perjuangan yang bernapas.

Ibuku…
dalam setiap doa yang kupanjatkan,
namamu selalu kusebut dengan lirih,
sebagai syukur yang tak akan pernah cukup terucap.

Terima kasih—
untuk luka yang kau sembuhkan diam-diam,
untuk cinta yang kau beri tanpa syarat,
untuk hidup yang kau ajarkan dengan teladan.

Kini, biarlah doaku menjadi selimutmu:
semoga lelahmu diganti damai yang abadi,
semoga langkahmu yang dulu tak pernah berhenti
kini beristirahat dalam cahaya yang lebih tinggi.

Dan jika rindu ini tak lagi menemukanmu di dunia,
aku akan mencarimu di langit doa—
karena di sana, aku yakin,
engkau masih menjadi terangku selamanya.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts