Keberanian untuk Tidak Menjadi Apa-Apa.
Keberanian untuk Tidak Menjadi Apa-Apa.
Akhir pekan tidak datang untuk ditaklukkan,
ia tidak meminta daftar, tidak butuh capaian.
Ia hanya membuka pintu—
dan kita, yang terbiasa berlari,
sering bingung harus menjadi siapa di dalamnya.
Hari ini aku tidak menjadi apa-apa.
Tidak produktif, tidak penting, tidak terburu-buru.
Dan anehnya, justru di situlah
aku mulai terasa utuh.
Kita diajari bahwa waktu adalah sesuatu
yang harus diisi—
seperti gelas kosong yang memalukan jika dibiarkan.
Padahal mungkin,
waktu lebih mirip langit:
luas, diam, dan tidak pernah menuntut burung untuk terus terbang.
Dolce far niente—
bukan tentang berhenti,
tapi tentang menolak dipaksa bergerak
oleh suara yang bahkan bukan milik kita sendiri.
Lihatlah:
daun tidak merasa bersalah saat jatuh,
air tidak meminta izin untuk mengalir,
matahari tidak tergesa-gesa saat tenggelam.
Hanya manusia
yang menjadikan jeda sebagai dosa.
Hari ini aku belajar
bahwa diam bukan kekosongan—
ia adalah ruang
di mana jiwa akhirnya punya tempat duduk.
Bahwa tidak semua harus bermakna besar,
tidak semua harus selesai,
tidak semua harus menjadi cerita
yang bisa dibanggakan kepada dunia.
Ada hari-hari yang cukup
untuk dirasakan saja—
tanpa disimpulkan.
Dan mungkin,
di dunia yang mengukur nilai dengan kecepatan,
keberanian terbesar adalah ini:
berhenti,
tanpa merasa tertinggal.
Karena siapa bilang hidup harus selalu ke depan?
Kadang,
ia hanya ingin kita
benar-benar berada di sini.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment