Khusyuk yang Mengalir, Tanpa Genggam
Khusyuk yang Mengalir, Tanpa Genggam
Bukan hanya di sajadah
saat dahi luluh menyentuh bumi,
aku belajar khusyuk—
tapi sejak air pertama
menyentuh kulit dalam wudhu,
dingin yang tidak sekadar dingin,
melainkan isyarat halus:
lepaskan… lepaskan… lepaskan.
Setiap basuhan
bukan membersihkan anggota,
melainkan menanggalkan “aku”
yang terlalu ingin mengatur segalanya.
Di sana aku mulai paham,
bahwa khusyuk bukan milik gerakan,
melainkan milik penyerahan.
Lalu aku berjalan—
di jalan yang kadang riuh, kadang sepi,
tanpa lagi tergesa menjadi sesuatu,
tanpa lagi sibuk mengejar arti.
Langkahku tidak berhenti,
ikhtiarku tidak padam,
namun hatiku tidak lagi berlari.
Ia duduk…
diam…
menghadap tanpa suara.
Makan—
bukan sekadar mengisi lapar,
tapi menerima tanpa memilih,
tanpa bertanya mengapa ini, bukan itu.
Setiap suap adalah izin,
setiap rasa adalah titipan,
dan kenyang pun bukan kemenangan.
Minum—
seperti jiwa yang diteguk perlahan oleh langit,
tidak haus,
tidak juga menolak,
hanya cukup.
Dalam bekerja,
tanganku bergerak sebagaimana mestinya,
rencana tetap kususun,
usaha tetap kutegakkan—
namun diam-diam,
aku melepaskan hasil
sebelum ia sempat lahir.
Tak ada lagi “harus berhasil”,
tak ada lagi “jangan gagal”,
yang ada hanya:
lakukan… lalu kembalikan.
Dalam lelah,
aku tidak melawan letih,
tidak juga menyalahkan waktu—
aku jatuh saja,
pelan,
ke dalam pelukan yang tak terlihat.
Dan anehnya,
di sana tidak ada kehancuran—
yang ada justru utuh
yang tak pernah kusadari.
Khusyukku bukan tegang,
bukan pula keras menahan diri,
bukan wajah yang dipaksa hening—
ia lembut,
seperti angin yang tidak ingin dipahami,
seperti air yang tidak ingin dipegang.
Ia hadir saat aku berhenti
memaksa segalanya
menjadi seperti yang kupikirkan.
Aku tetap berusaha—
ya, aku tetap menanam,
tetap menunggu,
tetap berharap—
namun tanpa menggenggam harapan itu.
Sebab yang kutanam
bukan untuk kupanen sepenuhnya,
dan yang kutunggu
bukan untuk pasti datang.
Segala yang datang
tidak pernah benar-benar milikku,
dan yang pergi
tak pernah benar-benar hilang.
Aku hanya tempat singgah
bagi takdir yang melintas.
Maka satu per satu kulepaskan—
keinginan yang diam-diam mengikat,
ketakutan yang pura-pura menjaga,
dan doa-doa yang dulu kupaksa menjawab.
Kini doa menjadi sunyi,
bukan karena hilang,
tapi karena telah pulang.
Aku kembalikan
segala rasa, segala harap, segala luka
kepada Yang Maha Memiliki—
tanpa syarat,
tanpa arah,
tanpa tuntutan untuk dimengerti.
Dan di sana—
bukan di puncak usaha,
bukan di akhir pencapaian—
melainkan di tengah penyerahan yang utuh,
aku menemukan sesuatu yang tak bergerak:
tenang…
yang tidak bergantung pada apa pun,
yang tidak lahir dari keadaan,
yang tidak hilang oleh perubahan.
Tenang
yang sejak awal
sebenarnya telah ada—
hanya tertutup
oleh “aku”
yang terlalu ingin memiliki.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment