Langit yang Dipinjamkan
Langit yang Dipinjamkan
Di atas kepulauan yang dulu diajarkan berdiri sendiri,
langit adalah kedaulatan yang tak bersuara—
ia tidak berteriak,
tapi ia mengawasi setiap jejak yang melintas.
Kita pernah belajar dari Soekarno,
bahwa merdeka bukan hanya tanah dan laut,
tetapi juga keputusan-keputusan yang tak tunduk
pada angin dari mana pun ia berhembus.
Kini langit itu—
perlahan dipertanyakan:
apakah ia masih milik kita,
atau sekadar jalur yang dipinjamkan diam-diam?
Tidak ada bom yang jatuh,
tidak ada perang yang diumumkan,
hanya tanda tangan yang sunyi,
dan kalimat-kalimat yang dilunakkan oleh diplomasi.
Namun sejarah jarang dimulai dengan dentuman—
ia sering lahir dari izin.
Izin untuk melintas.
Izin untuk singgah.
Izin untuk percaya bahwa ini hanya sementara.
Dan kita tahu,
yang sementara sering menemukan cara
untuk menetap.
Di meja perundingan,
netralitas ditulis dengan tinta yang mudah luntur.
Ia terlihat tegak di kertas,
namun goyah di peta kekuatan.
Apa arti bebas
jika arah angin mulai menentukan kemudi?
Apa arti aktif
jika langkah kita dibaca sebagai bayangan pihak lain?
Kita berdiri di antara samudra kepentingan,
di mana ASEAN mengajarkan keseimbangan,
dan Gerakan Non-Blok pernah menjadi sumpah moral
bahwa kita tidak akan menjadi halaman belakang siapa pun.
Namun dunia kini tidak menunggu sumpah—
ia menilai dari jejak.
Jika suatu hari langit kita dipakai
untuk menuju perang yang bukan milik kita,
akankah kita tetap berkata:
“kami tidak berpihak”?
Jika suara kita untuk Palestina
mulai terdengar seperti gema yang ragu,
akankah dunia percaya
bahwa hati kita masih utuh?
Kedaulatan bukan hanya soal siapa yang masuk,
tetapi siapa yang bisa kita tolak
tanpa rasa takut kehilangan sesuatu.
Dan di situlah ujian sebenarnya:
bukan pada perjanjian yang ditandatangani,
tetapi pada batas yang berani dijaga.
Sebab bangsa ini tidak dibangun
untuk menjadi persimpangan strategi global,
melainkan rumah bagi keputusan yang merdeka.
Langit tidak pernah meminta untuk dibela—
ia hanya menunggu:
apakah kita masih cukup berdaulat
untuk mengatakan tidak.
Atau kita akan belajar terlambat,
bahwa yang paling mudah hilang
bukanlah wilayah,
melainkan arah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment