Mata Uang yang Tak Terlihat

Mata Uang yang Tak Terlihat


“Justice for sale”
bukan lagi bisik di lorong gelap,
melainkan bahasa yang dipahami
oleh mereka yang tahu harga
dari benar dan salah.

Ketika hukum menjadi mata uang,
ia tak lagi berdiri tegak—
ia berpindah tangan,
ditawar, ditimbang,
ditentukan oleh siapa yang mampu membayar.

Yang bersalah belajar tersenyum,
karena pintu bisa dibuka dengan angka.
Yang tak bersalah mulai gemetar,
karena kebenaran tak lagi cukup
untuk membela dirinya sendiri.

Di titik itu,
negara tidak runtuh oleh serangan luar—
melainkan oleh pembusukan dari dalam,
oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaga
namun justru menghitung keuntungan.

Siapa yang bertanggung jawab?

Bukan hanya mereka yang menerima,
tetapi juga mereka yang membiarkan.
Bukan hanya yang menjual keadilan,
tetapi juga yang diam
ketika harga mulai ditentukan.

Sebab kekuasaan bukan sekadar jabatan,
ia adalah amanah yang mengikat nurani.
Dan ketika nurani ditukar dengan kepentingan,
yang hilang bukan hanya keadilan—
melainkan arah dari sebuah bangsa.

Jika ini dibiarkan,
kita tidak hanya kehilangan hukum,
kita kehilangan kepercayaan—
fondasi paling sunyi
yang menopang berdirinya negara.

Tanpa kepercayaan,
undang-undang hanyalah teks,
pengadilan hanyalah panggung,
dan aparat hanyalah simbol
tanpa makna.

Lalu ke mana bangsa ini akan pergi?

Ke depan yang gelap,
di mana rakyat memilih diam
bukan karena tidak tahu,
tetapi karena tak lagi percaya
bahwa suara mereka berarti.

Namun sejarah selalu memberi ruang
bagi mereka yang berani memutus lingkaran.

Perbaikan tidak lahir dari satu tangan,
tetapi dari keberanian kolektif:
pemimpin yang memilih integritas,
penegak hukum yang menolak dibeli,
dan rakyat yang tidak lelah
menuntut kebenaran.

Sebab bangsa ini tidak dibangun
untuk diperjualbelikan,
dan keadilan tidak pernah diciptakan
untuk menjadi komoditas.

Ia adalah fondasi.
Ia adalah napas.
Ia adalah garis batas terakhir
antara negara—
dan sekadar kekuasaan.

Dan ketika garis itu hilang,
yang tersisa hanyalah
kekuatan tanpa jiwa.

Maka sebelum semuanya terlambat,
kita harus memilih:
apakah hukum akan tetap menjadi cahaya—
atau selamanya menjadi harga.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts