Tatami: Proses yang Menempa
Tatami: Proses yang Menempa
Di atas tatami, masa kecil yang keras ditempa—
bukan dengan cerita manis,
melainkan jatuh berulang
yang tak diberi banyak pilihan selain bangkit.
Ayah mengulang tanpa lelah:
kuda-kuda, pegangan, tarikan, putaran.
Gerakan dipecah jadi serpihan kecil,
diulang sampai bosan,
diulang lagi sampai benar.
Aku dilatih oleh yang lebih besar,
lebih berat, lebih berpengalaman—
masa kecil yang teruji itu
justru akrab dengan bantingan.
Awalnya kacau:
terlambat sepersekian detik,
salah sudut, salah tenaga,
jatuh tanpa tahu kenapa.
Namun dari kerasnya itu,
perlahan terbaca makna:
timing bukan kecepatan,
tapi kesabaran membaca celah.
Tenaga bukan kekuatan,
tapi arah yang tepat.
Rasa sakit bukan lagi ancaman,
ia bagian dari bahasa tubuh.
Otot yang dulu menolak,
mulai tunduk pada disiplin.
Bushido hidup dalam pengulangan—
jatuh, bangkit, kalah, berlatih lagi.
Masa kecil yang teruji itu
tidak memberi banyak ruang untuk menyerah.
Hingga suatu titik,
tubuh bergerak tanpa ragu,
momen terasa jelas,
dan lawan jatuh… tepat waktu.
Dan saat tangan diangkat sebagai tanda menang,
yang terasa bukan sekadar bangga—
melainkan jejak panjang
dari jatuh yang tak pernah sia-sia.
Karena yang terbentuk bukan hanya juara,
melainkan jiwa yang tahan ditempa.
Dan gelar itu akhirnya jelas asalnya:
bukan dari satu kemenangan,
tetapi dari latihan yang tak pernah putus—
setia, diam,
membangun sejak masa kecil yang keras itu.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment