Teras Sunyi, Hati yang Pulang

Teras Sunyi, Hati yang Pulang


Di teras yang sederhana, angin berbisik lirih,
jejak langkah pagi masih hangat di tanah,
keringat telah menjadi doa yang diam,
dan tubuh pun tunduk dalam syukur yang tak terucap.

Secangkir teh jahe mengepul pelan,
seperti dzikir yang naik tanpa suara,
pisang goreng di tangan, sederhana adanya,
namun terasa seperti jamuan dari langit yang penuh kasih.

Waktu berjalan tanpa tergesa,
seolah dunia ikut duduk bersamaku,
memandang taman yang hijau berserah,
pada kehendak-Mu yang tak pernah salah arah.

Selepas ashar, sunyi menjadi sahabat,
rumah tak lagi ramai oleh kata,
hanya hati yang mengetuk pintu langit,
melafalkan nama-Mu berulang tanpa lelah.

Dalam dzikir yang panjang dan dalam,
aku tenggelam tanpa ingin kembali,
bukan hilang—melainkan ditemukan,
di antara kasih-Mu yang tak bertepi.

Malam pun datang tanpa gaduh,
pelan, seperti pelukan yang menenangkan,
dan sebelum tidur memeluk kesadaran,
aku bisikkan pujian yang sederhana:

Ya Allah,
jika hari-hariku hanyalah ini—
tenang, cukup, dan dekat pada-Mu—
maka sungguh, itulah surga
yang Kau titipkan sebelum waktunya.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts