APBN yang Kehilangan Rakyatnya
APBN yang Kehilangan Rakyatnya
Presiden kembali berdiri
di depan parlemen
dengan suara yang dipenuhi tenaga negara.
Tentang pertumbuhan yang dijaga.
Tentang inflasi yang terkendali.
Tentang hilirisasi yang disebut
sebagai jalan menuju masa depan.
Dan tepuk tangan pun terdengar
seperti prosedur yang wajib dijalankan sejarah.
Tetapi di luar ruang itu,
Indonesia sedang mengalami sesuatu
yang tak masuk tabel makroekonomi:
kelelahan.
Bukan marah.
Bukan memberontak.
Hanya lelah.
Lelah mendengar transformasi
yang tak pernah benar-benar tiba
di kehidupan sehari-hari.
Karena rakyat tidak hidup
di dalam angka pertumbuhan.
Mereka hidup
di antara harga pangan yang naik perlahan,
pekerjaan yang makin rapuh,
dan masa depan anak-anak
yang terasa semakin mahal.
Pemerintah berkata
ekonomi tetap tumbuh.
Tetapi pertumbuhan macam apa
yang membuat kelas menengah
terus bekerja lebih keras
hanya untuk mempertahankan hidup
di titik yang sama?
Dulu satu gaji cukup membeli rumah kecil.
Sekarang dua gaji
bahkan hanya cukup membeli kecemasan jangka panjang.
Dan negara menyebut itu:
stabilitas.
Presiden berbicara tentang hilirisasi
seperti seorang nahkoda
yang yakin kapal telah bergerak menuju industri maju.
Tetapi apakah kita sungguh sedang industrialisasi?
Ataukah kita hanya menjual
bahan mentah
dalam bentuk yang sedikit lebih mahal?
Nikel keluar dari bumi.
Smelter berdiri.
Ekspor melonjak.
Tetapi mesin tetap impor.
Teknologi tetap asing.
Riset tetap tertinggal.
Dan anak-anak muda Indonesia
tetap menjadi operator
di industri yang kepemilikannya
bukan milik mereka sendiri.
Kita menyebutnya kedaulatan ekonomi.
Padahal sering kali
kita hanya naik kelas
dari penjual tanah
menjadi penjaga tungku peleburan.
Sementara itu
pabrik-pabrik padat karya
jatuh satu per satu.
Tekstil melemah.
Alas kaki terguncang.
Elektronik stagnan.
Investasi datang besar-besaran,
tetapi pekerjaan formal
tidak tumbuh sebesar janji konferensi pers.
Karena ekonomi hari ini
lebih ramah pada kapital besar
daripada tenaga kerja manusia.
Mesin tidak protes upah.
Robot tidak meminta cuti.
Dan pasar global
tidak peduli
berapa banyak lulusan baru
yang akhirnya bekerja serabutan
di kota-kota yang terlalu mahal.
Tetapi pidato negara
masih terus berbicara
tentang bonus demografi
seolah jumlah penduduk muda
otomatis menjadi kekuatan.
Padahal tanpa pekerjaan bermartabat,
bonus demografi bisa berubah
menjadi akumulasi frustrasi nasional.
Lalu APBN datang
membawa bansos, subsidi, bantuan tunai,
seperti ember yang terus menuang air
ke rumah yang fondasinya retak.
Negara semakin sibuk
menahan agar rakyat tidak jatuh,
tetapi lupa membangun tangga
agar mereka bisa naik.
Dan ruang fiskal makin sempit.
Bunga utang naik diam-diam
seperti rayap
yang memakan kayu rumah negara
dari dalam.
Belanja birokrasi tetap gemuk.
Proyek simbolik tetap berjalan.
Tetapi reformasi yang sungguh menyakitkan
selalu ditunda:
reformasi pajak,
efisiensi birokrasi,
perbaikan pendidikan vokasi,
reformasi agraria,
penguatan industri nasional.
Karena terlalu banyak kebijakan hari ini
dibuat bukan untuk mengubah struktur,
melainkan menjaga ketenangan politik.
Negara akhirnya bergerak
seperti tari poco-poco:
maju sedikit,
mundur sedikit,
berputar sedikit,
lalu menganggap diri sedang melangkah jauh.
Dan rakyat diminta terus optimistis.
Padahal yang paling hilang dari negeri ini
bukan pertumbuhan ekonomi,
melainkan rasa keadilan.
Rakyat masih mau berkorban
jika percaya pengorbanan itu dibagi rata.
Tetapi bagaimana mereka percaya
jika penghematan diminta dari bawah,
sementara kemewahan tetap tumbuh di atas?
Bagaimana rakyat percaya pada efisiensi
jika pejabat masih mempertontonkan
jarak hidup
yang nyaris tak masuk akal?
Presiden,
bahaya terbesar negeri ini
mungkin bukan defisit anggaran.
Bukan nilai tukar.
Bukan bahkan perlambatan ekonomi global.
Bahaya terbesar adalah
ketika rakyat mulai merasa
bahwa negara lebih pandai
mengelola persepsi
daripada mengelola kenyataan.
Karena ketika pidato
tak lagi bertemu kehidupan sehari-hari,
maka angka-angka kehilangan makna.
Dan sebuah bangsa
bisa tampak stabil di laporan tahunan
sementara diam-diam retak
di dalam hati rakyatnya sendiri.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment