Belajar Berserah

Belajar Berserah


Di antara sunyi yang tak pernah benar-benar kosong,
ada denyut yang tak terdengar—
gerak halus partikel, tarikan inti pada inti,
ikatan tak kasatmata yang menyulam semesta
tanpa satu pun keliru.

Atom-atom bersujud dalam orbitnya,
molekul-molekul bertasbih dalam diam,
dan kita—
yang sering merasa mengatur arah—
hanyalah debu yang diberi rasa memiliki.

Daun jatuh bukan karena lelah semata,
ia pulang karena dipanggil.
Awan berarak bukan sekadar tertiup,
ia digiring menuju janji hujan.
Dan hujan turun—
bukan sekadar air dari langit,
melainkan rahmat yang tahu di mana harus singgah.

Begitu pula hidup kita,
langkah yang kita kira pilihan,
pertemuan yang kita sebut kebetulan,
kehilangan yang kita tangisi dalam diam—
semuanya ditenun oleh tangan yang tak terlihat,
namun tak pernah salah menakar.

Kita berlari mengejar masa depan,
seakan waktu tunduk pada rencana,
padahal setiap detik adalah titipan,
setiap arah adalah kehendak-Nya.

Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh
sebuah pengakuan yang meruntuhkan kesombongan,
sekaligus membangun harapan.

Bahwa tak ada daya untuk bertahan
kecuali Dia yang menguatkan.
Tak ada jalan yang terbuka
kecuali Dia yang membukakan.

Maka biarlah aku berjalan,
bukan dengan keyakinan atas diriku,
melainkan dengan kepasrahan pada-Mu.

Jika jatuh, itu karena Engkau mengajarkanku tunduk.
Jika bangkit, itu karena Engkau meniupkan kekuatan.
Jika diberi, itu karena kasih-Mu melimpah.
Jika diambil, itu karena Engkau menjaga dari yang tak perlu.

Di ujung segala usaha,
di batas segala logika,
aku berhenti—
bukan karena menyerah,
melainkan karena percaya.

Bahwa Engkau,
Sang Maha Mengatur segala yang bergerak dan diam,
tak pernah lalai,
tak pernah terlambat,
tak pernah salah.

Dan di situlah aku menemukan tenang:
bukan saat semua sesuai keinginan,
tetapi saat hati sepenuhnya berkata—

cukup Engkau.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts