Blok M, Setelah Lampu-Lampu Menyala Lagi

Blok M, Setelah Lampu-Lampu Menyala Lagi


Di sebuah sudut kedai kopi
aku duduk sendiri,
menyeruput waktu
yang rasanya sudah lama dingin.

Di luar,
langkah kaki saling bersahutan,
motor, tawa, musik jalanan,
dan wajah-wajah muda
yang datang dengan mimpi masing-masing.

Blok M hidup lagi.

Padahal aku ingat benar
masa ketika kawasan ini seperti napas yang tertahan—
rolling door setengah tertutup,
etalase berdebu,
lampu toko redup lebih cepat dari senja,
dan lorong-lorong yang kehilangan suara.

Jakarta pernah meninggalkannya perlahan.

Tapi hidup memang punya caranya sendiri
untuk kembali pulang.

MRT datang
seperti aliran darah baru
ke tubuh kota yang hampir letih.
Orang-orang kembali turun di stasiun,
membawa gaduh,
membawa lapar,
membawa harapan kecil
yang membuat malam kembali panjang.

Mulanya hanya Blok M Plaza.
Lalu hidup merembes ke trotoar,
ke warung-warung kecil,
ke kedai kopi yang penuh obrolan,
ke jalan yang dulu sepi
dan kini sulit mencari tempat duduk.

Dan aku—
yang dulu datang ke sini
berseragam sekolah,
tertawa tanpa beban bersama teman-teman,
diam-diam ikut kembali.

Ada kenangan yang ternyata
tidak benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu sebuah jalan
untuk ditemukan lagi.

Kadang lewat aroma hujan di aspal.
Kadang lewat lagu lama dari toko kecil.
Kadang lewat wajah-wajah asing
yang membuat kita ingat
bahwa kita pernah muda
di tempat yang sama.

Malam semakin ramai.
Kopi tinggal setengah.
Dan aku sadar,
beberapa tempat bukan sekadar tempat.

Mereka adalah mesin waktu
yang diam-diam menyimpan
versi lama diri kita.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts