Darah yang Tidak Keluar dari Kantong Sendiri

Darah yang Tidak Keluar dari Kantong Sendiri


Di hari raya itu
takbir menggema dari menara-menara,
langit dipenuhi suara pujian,
dan jalan-jalan dipenuhi hewan
yang sebentar lagi akan rebah
demi sebuah nama:
ibadah.

Anak-anak kecil tersenyum melihat sapi besar.
Orang-orang miskin menunggu kantong daging
dengan sabar yang sudah diwariskan turun-temurun.
Di halaman masjid,
kamera dipasang.
Nama-nama pejabat disebut.
Spanduk dibentangkan.

Dan seekor sapi perlahan ditarik
ke tengah keramaian.

Tetapi di dalam agama,
kurban bukan pertama-tama tentang sapi.
Bukan tentang tanduk.
Bukan tentang berat timbangan.
Bukan pula tentang siapa paling besar ukuran hewannya.

Kurban adalah sesuatu
yang keluar dari diri sendiri.

Dari kecintaan.
Dari kepemilikan.
Dari sesuatu yang sebenarnya ingin dipertahankan
namun dilepaskan
demi Tuhan.

Karena itu Ibrahim diuji
bukan dengan milik orang lain.
Bukan dengan harta publik.
Bukan dengan kas negeri.

Melainkan dengan sesuatu
yang paling ia cintai.

Dan sejak itu langit seperti berbisik:
ibadah selalu meminta luka pribadi.

Maka ketika negara membeli sapi
dengan uang rakyat,
lalu seseorang berdiri di depannya
dan disebut sedang “berkurban,”
muncullah pertanyaan kecil
yang diam-diam menggigil
di dalam hati banyak orang:

siapa sebenarnya yang sedang berkorban?

Sebab uang negara
bukan uang langit yang jatuh untuk satu nama.
Ia berasal dari pajak buruh
yang punggungnya patah oleh lembur.
Dari pedagang kecil
yang dihitung sampai recehnya.
Dari solar nelayan.
Dari tanah petani.
Dari peluh pegawai biasa
yang hidupnya sendiri nyaris tak pernah selesai.

Dan agama tahu betul
perbedaan antara memberi
dan membagikan milik bersama.

Negara memang boleh menyediakan hewan.
Boleh memberi makan rakyat.
Boleh menghadirkan syiar.
Boleh memakai anggaran
demi kemaslahatan.

Tetapi fikih yang jujur akan berkata:
itu sedekah negara,
bukan selalu kurban pribadi.

Sebab Tuhan tidak hanya melihat
darah yang menetes ke tanah.

Ia melihat:
dari kantong siapa darah itu berasal.

Dan betapa sering manusia
ingin memperoleh kemuliaan spiritual
tanpa kehilangan apa pun dari dirinya sendiri.

Kita hidup di zaman
ketika nama lebih besar daripada pengorbanan.
Ketika baliho lebih besar daripada keikhlasan.
Ketika dokumentasi lebih ramai daripada doa.

Orang ingin disebut dermawan
dengan uang yang bukan miliknya.
Ingin disebut berkorban
tanpa pernah merasa kehilangan.

Padahal hakikat kurban
adalah rasa perih
saat melepaskan sesuatu
yang kita cintai.

Karena itu Tuhan berkata:
“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah.”

Seolah langit sedang mengingatkan:
Aku tidak lapar pada sapi kalian.

Aku hanya ingin tahu
apakah masih ada manusia
yang rela mengurangi dirinya sendiri
demi cinta kepada-Ku.

Dan mungkin,
di tengah gema takbir yang megah itu,
langit justru lebih mencintai
seorang tukang becak
yang membeli kambing kecil
dari tabungan bertahun-tahun—

lalu pulang dengan mata basah
karena bulan itu
ia harus hidup lebih hemat.

Sebab di situlah kurban benar-benar lahir:

ketika ada sesuatu
yang sungguh keluar
dari hati manusia.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts