Debu yang Menjadi Saksi
Debu yang Menjadi Saksi
Di antara tasbih yang lirih
dan napas yang turun naik
aku duduk—
bukan siapa-siapa,
hanya hamba yang memanggil-Mu
dengan nama yang tak pernah selesai kusebut.
Lalu waktu seperti dilipat,
ruang seperti dibuka tanpa suara.
Aku tiba di tanah yang asing
namun terasa lama kukenal—
gersang, sunyi, berdebu,
matahari menggantung tanpa ampun,
dan angin membawa kisah
yang tak pernah tertulis.
Aku sendiri.
Atau mungkin…
aku hanya baru sadar bahwa
selama ini memang sendiri di hadapan-Mu.
Di tepi Ka’bah yang sepi
aku tetap berdzikir,
karena hanya itu yang kupunya
untuk tetap hidup
di antara panas dan kehampaan.
Lalu mereka datang—
langkah-langkah yang tidak gaduh
namun penuh makna.
Sebuah rombongan kecil,
menuju batu yang dicium langit dan bumi.
Dan di antara mereka…
ada cahaya yang tak menyilaukan mata
namun menundukkan hati.
Aku tak berani memastikan,
aku hanya hamba
yang bahkan tak pantas menduga.
Namun ketika wajah itu menoleh—
hatiku runtuh
tanpa suara.
Aku tetap berdzikir,
karena hanya itu keberanianku.
Utusan itu datang kepadaku,
bahasanya tak kumengerti
namun panggilannya kupahami
lebih jelas dari apa pun di dunia ini.
Langkahku goyah,
kepalaku berputar,
dan jantungku seperti ingin keluar
mendahului diriku sendiri.
“Siapakah aku
hingga dipanggil mendekat?”
Namun aku berjalan.
Dan ketika aku berdiri di hadapannya,
segala tanya hilang,
segala ragu luruh.
Senyum itu—
bukan sekadar senyum,
melainkan rahmat yang turun
tanpa aku layak menerimanya.
Tangan itu menggenggam tanganku,
dan seluruh hidupku terasa ringan,
seakan semua dosa menunduk
dan semua luka diam.
Aku berlutut,
bukan karena kuat
tapi karena tak mampu lagi berdiri.
Lisanku bergetar,
namun kalimat itu mengalir
seperti sudah lama menunggu pulang:
Asyhadu an laa ilaaha illallaah,
wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah.
Lalu shalawat,
yang selama ini hanya kuucap,
kini terasa hidup,
mengalir dari hati
yang akhirnya menemukan arah.
Dan perlahan…
semua kembali sunyi.
Tak ada rombongan,
tak ada debu yang berlari,
tak ada panas yang membakar.
Hanya aku,
sajadah,
dan dzikir yang masih bergetar.
Aku terdiam lama,
bukan karena kehilangan,
tapi karena takut—
takut semua itu hanyalah mimpi
yang terlalu indah
bagi seorang hamba sepertiku.
Namun jika itu hanya bayangan,
biarlah ia menjadi pengingat:
bahwa jalan menuju-Mu
tidak pernah jauh.
Dan jika itu adalah isyarat,
maka aku memohon dengan rendah—
jangan jadikan aku merasa telah sampai,
karena aku baru saja belajar berjalan.
Ya Allah…
jika debu itu benar menjadi saksi,
maka jadikan hatiku
tetap serendah tanah yang kupijak.
Agar kelak,
di waktu yang Engkau kehendaki,
aku benar-benar dipanggil—
bukan dalam bayangan,
tetapi dalam rahmat-Mu yang abadi.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment