Di Roda yang Tak Pernah Diam
Di Roda yang Tak Pernah Diam
The Consolation of Philosophy by Boethius, 524M
Aku pernah percaya pada tangan-tangan dunia,
pada singgasana yang dibangun dari pujian,
pada nama yang dielu-elukan angin
seolah ia abadi.
Lalu roda itu berputar—
tanpa aba-aba, tanpa belas kasihan—
menyisakan aku
di lantai sunyi
yang dinginnya lebih jujur dari semua tepuk tangan.
Di sana,
ketika segala yang kupegang luruh seperti debu,
datanglah suara yang tak berwajah—
bukan menghibur,
melainkan membongkar.
“Engkau bersedih,” katanya,
“bukan karena kehilangan,
melainkan karena salah mengenali
apa yang pantas dimiliki.”
Aku marah.
Bagaimana mungkin kehilangan bukan luka?
Bagaimana mungkin jatuh bukan kehancuran?
Namun suara itu sabar,
seperti waktu yang tak tergesa menghakimi:
“Apakah yang berubah itu
pernah benar-benar milikmu?”
Aku terdiam.
Sebab memang,
apa yang kusebut kebahagiaan
ternyata hanya titipan yang mudah berpaling:
kekuasaan yang rapuh,
kekayaan yang cemas,
kemuliaan yang lapar akan pengakuan.
Dan aku—
betapa mudahnya menyembah yang sementara
lalu mengutuk semesta saat ia pergi.
Di titik paling sunyi,
aku mulai melihat:
bahwa yang tak bisa dirampas
tak pernah benar-benar kucari.
Bahwa ada kebaikan
yang tidak tunduk pada nasib,
tidak gentar pada waktu,
tidak retak oleh kehilangan.
Ia bukan milik dunia—
melainkan arah pulang.
Namun pertanyaan itu datang lagi, lebih tajam:
Jika segala telah diketahui,
apakah aku masih bebas memilih?
Dan jawaban itu seperti cahaya
yang tidak membutakan,
hanya membuka:
“Yang kekal tidak menunggu masa depan—
ia melihat segalanya sekaligus.
Bukan untuk mengikatmu,
melainkan untuk menyaksikan
pilihanmu tetap milikmu.”
Maka aku berdiri,
bukan sebagai korban nasib,
melainkan sebagai pejalan
yang terlalu lama tersesat.
Dan kini aku tahu,
yang jahat tak pernah benar-benar menang—
ia hanya tersesat lebih jauh.
Yang baik tak selalu tampak bahagia—
namun ia tidak kehilangan arah.
Roda itu masih berputar.
Dunia tetap berubah.
Segalanya tetap bisa hilang.
Tetapi kali ini,
aku tidak lagi menggenggam yang rapuh
seolah ia kekal.
Aku belajar mencintai yang tak bisa dicuri:
kebenaran yang sunyi,
kebaikan yang tak dipuji,
dan damai
yang lahir bukan dari memiliki—
melainkan dari mengerti.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment