Jalan Pulang yang Sunyi
Jalan Pulang yang Sunyi
Ada saat
ketika dunia tidak meminta apa-apa,
dan engkau pun tidak menuntut apa-apa darinya.
Hanya angin,
yang lewat tanpa nama,
hanya langit,
yang luas tanpa perlu dijelaskan.
Di sana—
entah di punggung gunung,
di tepi laut yang bernafas pelan,
atau di teras kecil yang sederhana—
engkau merasa pulang,
tanpa pernah benar-benar pergi.
Bukan karena hidup tiba-tiba sempurna,
bukan karena semua luka selesai,
melainkan karena sesuatu di dalam dirimu
akhirnya berhenti berisik.
Dan dalam diam itu,
hadir rasa yang sulit disebut:
cukup…
dekat…
utuh…
Seolah tidak ada jarak
antara engkau dan Yang Maha Ada,
seolah yang kau cari selama ini
tidak pernah benar-benar jauh.
Namun ketahuilah—
ia bukan sesuatu untuk digenggam,
bukan pula tanda yang perlu diterjemahkan dengan tergesa.
Ia datang
ketika engkau tidak memaksa,
ia tinggal
ketika engkau tidak mengusik.
Dan saat hidup kembali membawa gelombang—
keruh, gaduh, tak terduga—
engkau belajar berdiri di dalamnya
tanpa harus tenggelam.
Marah masih datang,
resah masih mengetuk,
namun kini ada jarak halus
yang membuatmu tetap melihat,
tanpa harus hanyut sepenuhnya.
Engkau tetap berjalan,
menyelesaikan, memutuskan, menghadapi—
namun tanpa beban yang dulu mengikat erat.
Seperti langit
yang tidak menolak awan,
namun juga tidak menjadi awan itu sendiri.
Dan perlahan kau mengerti:
ketenangan bukanlah tujuan,
melainkan cara berjalan.
Bukan sesuatu yang kau miliki,
melainkan sesuatu yang muncul
ketika engkau berhenti
terlalu banyak mencengkeram hidup.
Maka jika ia datang lagi—
dalam sunyi yang sederhana,
dalam langkah kecil yang biasa—
jangan ditanya artinya.
jangan ditahan kehadirannya.
cukup rasakan…
dan biarkan ia
menjadi jalan pulang
yang selalu ada
di dalam dirimu sendiri.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment