Ketika Aku Berhenti Memaksa Langit

Ketika Aku Berhenti Memaksa Langit


Di ujung malam
aku pernah mengetuk pintu-Mu
dengan tangan gemetar
dan hati yang penuh daftar harapan.

Aku menyebut nama-Mu
berulang-ulang
seperti ombak
yang tak lelah menciumi pantai.

Aku meminta.
Lagi.
Dan lagi.

Sampai doa-doaku
menjadi hujan panjang
yang bahkan aku sendiri
tak lagi tahu
mana air mata
mana pengharapan.

Namun langit tetap diam.

Tak ada jawaban
yang turun seperti cahaya.
Tak ada keajaiban
yang datang mengetuk hidupku.

Dan perlahan
aku lelah menjadi manusia
yang terus menggenggam “mengapa”.

Maka suatu hari
aku duduk diam di hadapan-Mu
tanpa tuntutan,
tanpa syarat,
tanpa daftar permintaan
yang memaksa semesta berubah.

Aku menyerah—
bukan karena berhenti percaya,
melainkan karena akhirnya mengerti
bahwa cinta kepada-Mu
tidak selalu harus berujung
pada terkabulnya keinginan.

Kini jika Engkau memberi,
aku bersyukur.
Jika tidak,
aku tetap bersujud.

Sebab ternyata
yang paling kubutuhkan
bukan jawaban atas doa-doaku,
melainkan agar hatiku
tidak jauh dari-Mu.

Aku tidak lagi mengejar mukjizat
seperti dulu.
Aku hanya ingin
tetap mampu menyebut nama-Mu
dengan tenang
meski hidup berjalan
tak sesuai harapanku.

Dan anehnya—
setelah aku berhenti memaksa langit,
aku justru menemukan
sesuatu yang lebih luas
daripada terkabulnya keinginan:

kedamaian.

Kini aku tahu,
ada doa yang dijawab dengan “ya”,
ada yang dijawab dengan “nanti”,
dan ada yang dibiarkan menggantung
agar manusia belajar
bahwa Tuhan bukan mesin permintaan.

Maka biarlah hidup mengalir
ke mana pun Engkau menulis takdirku.
Aku akan tetap memuji-Mu
di musim terang
maupun musim kehilangan.

Karena akhirnya
aku mencintai-Mu
bukan sebab Engkau mengabulkan segalanya,
tetapi sebab Engkau tetap Tuhan
bahkan ketika doaku
belum menjadi nyata.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts