Ketika Rupiah Gemetar di Langit Negeri
Ketika Rupiah Gemetar di Langit Negeri
Di layar-layar pasar
angka-angka berjatuhan
seperti daun tua kehilangan musim.
Rupiah melemah.
Dan di ruang-ruang berpendingin,
itu hanya grafik.
Tetapi di dapur rakyat,
itu adalah minyak yang ditakar ulang,
beras yang dibeli separuh,
dan ibu yang diam-diam
mengurangi jatah makannya sendiri.
⸻
Dollar naik.
Tetapi yang sesungguhnya jatuh
adalah ketenangan orang kecil.
Para buruh mulai menghitung
berapa hari lagi pabrik bertahan.
Para sopir memandang jarum bensin
seperti menatap nasib.
Pedagang kecil menahan napas
di depan harga bahan baku
yang terus mendaki tanpa belas kasihan.
Negeri ini pun belajar lagi
bahwa kurs bukan sekadar angka—
ia dapat berubah menjadi kecemasan,
menjadi antrean kerja,
menjadi anak-anak
yang harus menunda sekolahnya.
⸻
Di gedung-gedung tinggi
orang berbicara tentang pasar,
tentang sentimen,
tentang arus modal dan obligasi.
Tetapi rakyat tidak hidup
di dalam istilah-istilah itu.
Rakyat hidup
di antara harga cabai,
utang warung,
tagihan listrik,
dan harapan sederhana
agar esok tidak lebih berat dari hari ini.
⸻
Betapa rapuh sebuah bangsa
jika terlalu lama menggantungkan napasnya
kepada negeri lain.
Kita menjual tanah mentah,
lalu membeli kembali masa depan
dengan harga yang jauh lebih mahal.
Kita kaya laut,
tetapi garam pun impor.
Kita kaya hutan,
tetapi industri tumbuh di negeri orang.
Kita memiliki tenaga muda,
namun terlalu sering kehilangan keberanian
untuk berdiri di kaki sendiri.
Dan setiap kali rupiah tersungkur,
kita baru teringat
bahwa kemerdekaan ekonomi
belum sepenuhnya selesai diperjuangkan.
⸻
Pemimpin sejati
bukan hanya menjaga angka pertumbuhan,
tetapi menjaga agar rakyat
tidak kehilangan martabatnya.
Sebab negara bukan sekadar APBN.
Negara adalah air mata
yang tidak terlihat statistik.
Negara adalah petani
yang tetap menanam
meski pupuk mahal.
Adalah nelayan
yang tetap melaut
meski solar menyesakkan dada.
Dan kekuasaan—
bila tidak dibimbing nurani—
mudah berubah menjadi gedung tinggi
yang lupa mendengar suara lapar.
⸻
Maka jangan biarkan rupiah
hanya dipertahankan dengan pidato.
Ia harus dijaga dengan keadilan.
Dengan industri yang hidup.
Dengan pemimpin yang tidak menjual masa depan
demi tepuk tangan sesaat.
Bangsa ini membutuhkan keberanian
untuk berhenti menjadi pasar
dan mulai menjadi peradaban.
Keberanian untuk membangun,
bukan sekadar membeli.
Untuk mengolah,
bukan sekadar menjual tanah sendiri.
⸻
Dan bila suatu malam
para pemimpin benar-benar terjaga
oleh suara rakyat kecil,
mungkin mereka akan mengerti:
bahwa stabilitas bukan hanya soal kurs,
tetapi tentang apakah seorang ayah
masih mampu pulang
membawa harapan untuk keluarganya.
Karena sesungguhnya
mata uang bisa melemah—
tetapi nurani sebuah bangsa
tidak boleh ikut runtuh.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment