KORPRI DI PERSIMPANGAN REPUBLIK
KORPRI DI PERSIMPANGAN REPUBLIK
Di gedung-gedung sunyi yang dipenuhi berkas,
di lorong panjang aroma tinta dan keputusan,
negara sebenarnya sedang ditentukan
oleh mereka
yang jarang disebut sejarah.
Bukan oleh sorak podium.
Bukan oleh gemuruh kampanye.
Bukan pula oleh wajah-wajah besar
yang berganti setiap musim kekuasaan.
Tetapi oleh tangan-tangan birokrasi
yang memilih:
tetap lurus
atau perlahan membungkuk.
⸻
KORPRI—
engkau lahir bukan sekadar himpunan pegawai.
Engkau seharusnya
adalah nurani administratif republik.
Penjaga kesinambungan.
Pengikat akal sehat negara.
Benteng sunyi
antara kekuasaan dan kesewenang-wenangan.
Namun sejarah selalu membawa pertanyaan
yang tak bisa dijawab dengan seragam,
pangkat,
atau upacara:
“Ketika negara melenceng,
di pihak mana engkau berdiri?”
⸻
Sebab konstitusi tak pernah roboh sekaligus.
Ia retak perlahan.
Dari keberanian yang menghilang.
Dari netralitas yang dijual murah.
Dari jabatan yang lebih dicintai
daripada kebenaran.
Dan sering kali—
keruntuhan republik dimulai
bukan ketika orang jahat berteriak,
melainkan ketika orang baik
memilih diam.
⸻
Ada masa
ketika birokrasi berubah menjadi lorong ketakutan.
Orang-orang pandai belajar menunduk.
Integritas dianggap ancaman.
Kejujuran dipindahkan.
Dan loyalitas
tak lagi kepada negara,
melainkan kepada figur sementara.
Di situlah ujian KORPRI dimulai.
Bukan saat negeri tenang.
Tetapi ketika kekuasaan mulai lupa batas.
⸻
Apakah engkau akan menjadi alat?
Yang menghalalkan segala perintah
atas nama stabilitas?
Ataukah menjadi penonton?
Diam, aman, netral secara administratif,
tetapi kalah secara moral?
Atau engkau memilih jalan paling sunyi—
menjadi penjaga konstitusi.
Bukan pemberontak.
Bukan oposisi.
Tetapi pengingat
bahwa negara ini dibangun
bukan untuk melayani kekuasaan,
melainkan melayani rakyat.
⸻
Wahai KORPRI,
masa depanmu bukan ditentukan
oleh seberapa sering engkau bertepuk tangan,
tetapi oleh seberapa teguh
engkau menjaga martabat ASN.
Sebab bangsa besar
tak hanya dibangun oleh pemimpin hebat,
tetapi oleh birokrasi
yang tidak menjual nuraninya.
⸻
Kelak,
di tahun-tahun ketika anak cucu membaca sejarah,
mereka mungkin tak mengingat
siapa pejabat hari ini.
Tetapi mereka akan bertanya:
“Ketika republik diuji,
siapa yang menjaga akal sehat negara?”
Dan sejarah akan menjawab
dengan sangat jujur:
siapa yang diam,
siapa yang ikut hanyut,
dan siapa yang tetap berdiri
meski sendirian.
⸻
Maka berdirilah,
bukan sebagai pegawai kekuasaan,
tetapi sebagai pelayan peradaban.
Karena sumpah ASN
sesungguhnya bukan hanya tentang jabatan.
Ia adalah janji sunyi
untuk menjaga Indonesia
bahkan ketika banyak orang
mulai melupakan arti republik.
⸻
Dan jika suatu hari
negara ini tetap utuh,
adil,
waras,
dan beradab—
mungkin itu bukan karena
tidak pernah ada godaan kekuasaan,
melainkan karena masih ada
orang-orang birokrasi
yang diam-diam menjaga konstitusi
dengan hati yang tidak pernah berpaling.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment